Selasa, 15 November 2016

www.blogspot.com
LAPORAN HASIL PRAKTEK


PESTISIDA DAN TEKNIK APLIKASI


Dosen Pengasuh : Dini Puspita Yanti Nst, SP. MS.i


OLEH


HOPMAN SIREGAR
NPM: 2011 11 127

Program Studi : Agroteknologi

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014




Judul Praktek         : Pestisida dan Teknik Aplikasi

Nama                       : Hopman Siregar
NPM                        : 2011 11 127
Program Studi        : Agroteknologi
Dosen Pengasuh     : Dini Puspita Yanti Nst, SP.MP
Asisten                     : 1. Halidah Edi Harahap
                                   2. Nurul Hidayah Pakpahan






FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014








KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr.Wb
Puji dan syukur kita ucapkan  kahadirat  Allah SWT atas limpahan rahmat dan ridho – Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan praktikum PESTISIDA DAN TEKNIK APLIKASI , tepat pada waktunya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih pada Ibu Dini Puspita Yanti ,SP selaku dosen pengasuh, Adinda Halidah Edi Hrp dan Nurul Hidayah , selaku asisten dosen yang telah memberikan bantuan, arahan, dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan dan penulisan laporan pratikum ini, dan tak lupa pula penulis ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang ikut membantu  penulisan laporan pratikum ini.
Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan penulisan laporan pratikum ini. Tapi mungkin terdapat beberapa kekurangan dan kelemahannya, untuk itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan laporan pratikum ini. 

Padang Sidempuan, Juli 2014

HOPMAN SIREGAR
NPM:  2011 11 127






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR................................................................          i
DAFTAR ISI................................................................................          ii
BAB. I PENDAHULUAN..........................................................          1
1.1. Latar Belakang............................................................          1
1.2.Tujuan...........................................................................          3

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA...............................................          4
2.1. Pesisida.........................................................................          4
2.2. Pestisida Sintetik..........................................................          7
2.3. Pestisida Nabati...........................................................          9
2.4. Teknik Aplikasi Pestisida............................................         12
2.5. Formulasi Pestisida......................................................         15
2.6. Residu Pestisida...........................................................         18

BAB III. METODE PELAKSANAAN.....................................         19
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan...............................         19
3.2. Alat dan Bahan ...........................................................         19
3.3. Pelaksanaan.................................................................         19
3.3.1.Formulasi Pestisida.................................................         19
3.3.2. Uji efektivitas Insektisida Terhadap Jamur
 Phatogen secara In vitro.......................................         19
3.3.3. Uji Residu Pestisida................................................         20
3.3.4. Uji Efektivitas Pestisida Nabati.............................         20

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...................................         21
4.1.Hasil...............................................................................         21
4.2. Pembahasan.................................................................         23


BAB V. PENUTUP.....................................................................         28
5.1.Kesimpulan...................................................................         28
5.2. Saran............................................................................         28

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN























BAB. I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida berasal dari kata  caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat diartikan secara sederhana sebagai  pembunuh hama. Menurut Food Agriculture Organization (FAO) 1986 dan peraturan pemerintah RI No. 7 tahun 1973, Pestisida adalah campuran bahan kimia yang digunakan untuk mencegah, membasmi dan mengendalikan hewan/tumbuhan penggangu seperti binatang pengerat, termasuk serangga penyebar penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia. Pada umumnya pestisida, terutama pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap jasad pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan jasad bukan  target  termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya (Tarumingkeng, 2008).
Secara garis besar, pestisida dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu pestisida organoklorin (hidrokarbon berklor), organofosfat (fosfat organik) dan karbamat . Formulasi bahan-bahan pestisida yang beredar dipasar digolongkan berdasarkan kemampuan suatu bahan atau zat-zat aktif yang terkandung didalamnya dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman yang digolongkan kedalam 5 golongan, yaitu : 
1        Herbisida merupakan kelompok pestisida yang khusus mengandung bahan atau zat-zat yang mampu mengendalikan gulma baik itu gulma rerumputan, teki-tekian, kayu-kayuan, berdaun lebar, dan berdaun sempit 
2        Fungisida merupakan kelompok pestisida yang berfungsi untuk mengendalikan serangan jamur dan cendawan penyebab penyakit pada tanaman budidaya .
3        Nematisida adalah pestisida yang berfungsi mengendalikan serangan hama dari golongan cacing, ulat dan nematoda. 
4        Insektisida merupakan pestisida yang diaplikasikan untuk mengendalikan hama dari golongan insekta seperti semut, serangga, lalat, lebah dll 
5         Rodentisida untuk mengendalikan hama tikus. 
Bentuk formulasi pestisida pada garis besarnya ada 3 macam yang pertama bentuk formulasi cair pekat yang dilambangkan dikemasan dengan huruf “ EC”. Kedua, butiran (granula) dengan lambang huruf “G” dan yang ketiga bentuk tepung (wartabke powder yang biasanya di lambangkan pada kemasan produk pestisida dengan huruf “W atau WP”. Cara mengaplikasikannya dari setiap bentuk formulasi berbeda namun dapat juga melalui penyemprotan (aplikasi yang paling banyak digunakan) seperti dengan pengenceran. Adapun cara mengaplikasikan pestisida kelapangan dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut :
1. Penyemprotan 
2. Injeksi 
3. Fumigasi 
4. Dusting 
5. Penaburan Namun pada prinsipnya, 
Apapun cara aplikasinya tetap tujuannya adalah untuk mengendalikan OPT yang harus memeprhatikan penggunaan dosis, jenis OPT yang akan dikendalikan, jenis pestisida yang akan dipakai, kapan waktu pengaplikasiannya, dan cara aplikasi yang akan dipakai juga musti tepat atau yang dikenal dengan istilah 5 T ( tepat dosis, tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat cara aplikasi dan tepat OPT yang akan dikendalikan).
Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Penggunaan pestisida dalam menopang peningkatan produk pertanian maupun perkebunan telah banyak membantu untuk meningkatkan produksi pertanian. Namun demikian penggunaan pestisida ini juga memberikan dampak negatif baik terhadap manusia, biota maupun lingkungan. Erin, et. al.(2001)

1.2.Tujuan
1        Mahasiswa mengetahui jenis-jenis formulasi pestisida dan bisa membedakan merek dagang, bentuk formulasi dan bahan aktif pestisida tersebut.
2        Mahasiswa mengetahui berbagai jenis-jenis tumbuhan yang bisa dijadikan pestisida nabati.
3        Mahasiswa mampu mengaplikasikan pestisida untuk mengendalikan hama/ penyakit secara invitro
4        Mahasiswa mengetahui dampak negatif penggunaan pestisida bagi lingkungan.





BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pestisida
Pestisida (Inggris : pesticide) berasal dari kata pest yang berarti hama dan cide yang berarti mematikan/racun. Jadi pestisida adalah racun hama. Secara umum pestisida dapat didefenisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan populasi jasad yang dianggap sebagai pest (hama) yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan kepentingan manusia.
Menurut The United States Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah sebagai berikut.
  1. Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama, kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang.
  2. Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman (Djojosumarto, 2004).
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1973, yang dimaksud Pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
ü  Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
ü  Memberantas rerumputan atau tanaman pengganggu/gulma.
ü  Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
ü  Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman, tidak termasuk pupuk.
ü  Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan peliharaan dan ternak.
ü  Memberantas atau mencegah hama-hama air.
ü  Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan alat-alat pengangkutan.
ü  Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.
Dalam Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, yang dimaksud dengan Pestisida adalah zat pengatur dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme renik, atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman.
Adapun penggolongan pestisida adalah sebagai berikut:
  1. Berdasarkan asal bahan yang digunakan untuk membuat pestisida, maka
pestisida dapat dibedakan ke dalam empat golongan yaitu :
Ø  Pestisida Sintetik, yaitu pestisida yang diperoleh dari hasil sintesa kimia, contohnya organoklorin, organofospat, dan karbamat.
Ø  Pestisida Nabati, yaitu pestisida yang berasal dari tumbuh-tumbuhan,  contohnya neem oil yang berasal dari pohon mimba
Ø  Pestisida Biologi, yaitu pestisida yang berasal dari jasad renik atau mikrobia yaitu jamur, bakteri atau virus contohnya
Ø  Pestisida Alami, yaitu pestisida yang berasal dari bahan alami, contohnya bubur bordeaux (Sitompul, 1987).
  1. Pestisida berdasarkan cara kerjanya
            Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dapat dibedakan kedalam beberapa
golongan yaitu: 
ü  Pestisida Kontak  yaitu pestisida yang dapat membunuh OPT (organisme pengganggu tanaman) bila OPT tersebut terkena pestisida secara kontak langsung atau  bersinggungan dengan residu yang terdapat di permukaan tanaman. Contoh : Mipcin 50 WP.
ü  Pestisida Sisitemik  yaitu pestisida yang dapat ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman. OPT akan mati setelah menghisap/memakan tanaman, atau dapat membunuh gulma sampai ke akarnya.
ü  Pestisida Lambung yaitu pestisida yang mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran makanan pestisida. Contoh : Diazinon 60 EC
ü  Pestisida pernapasan yaitu : Dapat membunuh hama yang menghisap gas yang berasal dari pestisida (Sudarmo, 1991).
  1. Pestisida Berdasarkan Organisme Sasaran
 Menurut Untung (1993), dari banyaknya jenis jasad penggangu yang bisa
mengakibatkan fatalnya hasil petanian, pestisida dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa macam sesuai dengan sasaran yang akan dikendalikan, yaitu :
ü  Insektisida yaitu bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang bisa mematikan semua jenis serangga.
ü  Fungisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun dan bisa digunakan untuk memberantas dan mencengah fungi/cendawan. Selain untuk mengendalikan serangan cendawan di areal pertanaman, fungisida juga banyak diterapkan pada buah dan sayur pascapanen.
ü  Bakterisida adalah senyawa yang mengandung bahan aktif beracun yang bisa membunuh bakteri.
ü   Nematisida adalah racun yang dapat mengendalikan nematode
ü  Akarisida atau sering juga disebut dengan mitisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk membunuh tungau, caplak dan laba-laba.
ü  Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat, misalnya tikus.
ü  Moluskida adalah pestisida untuk membunuh moluska, yaitu siput telanjang, siput setengah telanjang, sumpit, bekicot, serta trisipan yang banyak terdapat di tambak.
ü  Herbisida adalah bahan senyawa beracun yang dapat dimanfaatkan untuk membunuh tumbuhan penggangu yang disebut gulma.
Pestisida di Indonesia adalah sebagai berikut insektisida 55,42%, herbisida 12,25%, fungisida 12,05%, repelen 3,61%, zat pengatur pertumbuhan 3,21%, nematisida 0,44%, dan 0,40% ajuvan serta lain-lain berjumlah 1,41%. Dari gambaran  ini insektisida merupakan jenis pestisida yang paling banyak digunakan (Soemirat, 2005)

2.2.Pestisida Sintetik (Kimia)
Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan/pertumbuhan dari hama, penyakit dan gulma. Tanpa menggunakan pestisida akan terjadi penurunan hasil pertanian.Pestisida yang tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic. Secara garis besar, pestisida dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu pestisida organoklorin (hidrokarbon berklor), organofosfat (fosfat organik) dan karbamat .
Pestisida golongan organofosfat dan karbamat bersifat lebih toksik dibandingkan pestisida golongan organoklorin serta berefek akut sehingga sering menimbulkan keracunan pada hewan. Menurut Dep.Kes RI Dirjen P2M dan PL 2000 dalam Meliala 2005, struktur kimia pestisida dapat digolongkan menjadi :
  1. Golongan organochlorin misalnya DDT, Dieldrin, Endrin dan lain-lain. Umumnya golongan ini mempunyai sifat: merupakan racun yang universal, degradasinya berlangsung sangat lambat larut dalam lemak.
  2. Golongan organophosfat misalnya diazonin dan basudin. Golongan ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : merupakan racun yang tidak selektif degradasinya berlangsung lebih cepat atau kurang persisten di lingkungan, menimbulkan resisten pada berbagai serangga dan memusnahkan populasi predator dan serangga parasit, lebih toksik terhadap manusia dari pada organokhlor.
  3. Golongan carbamat termasuk baygon, bayrusil, dan lain-lain. Golongan ini mempunyai sifat sebagai berikut : mirip dengan sifat pestisida organophosfat, tidak terakumulasi dalam sistem kehidupan, degradasi tetap cepat diturunkan dan dieliminasi namun pestisida ini aman untuk hewan, tetapi toksik yang kuat untuk tawon.
  4. Senyawa dinitrofenol misalnya morocidho 40 EC. Salah satu pernafasan dalam sel hidup melalui proses pengubahan ADP(Adenesone-5-diphosphate) dengan bantuan energi sesuai dengan kebutuhan dan diperoleh dari rangkaian pengaliran elektronik potensial tinggi ke yang lebih rendah sampai dengan reaksi proton dengan oksigen dalam sel. Berperan memacu proses pernafasan sehingga energi berlebihan dari yang diperlukan akibatnya menimbulkan proses kerusakan jaringan.
  5. Pyretroid, salah satu insektisida tertua di dunia, merupakan campuran dari beberapa ester yang disebut pyretrin yang diekstraksi dari bunga dari genus Chrysanthemum. Jenis pyretroid yang relatif stabil terhadap sinar matahari adalah : deltametrin, permetrin, fenvalerate. Sedangkan jenis pyretroid yang sintetis yang stabil terhadap sinar matahari dan sangat beracun bagi serangga adalah : difetrin, sipermetrin, fluvalinate, siflutrin, fenpropatrin, tralometrin, sihalometrin, flusitrinate.
  6.  Fumigant, merupakan senyawa atau campuran yang menghasilkan gas atau uap atau asap untuk membunuh serangga , cacing, bakteri, dan tikus. Biasanya fumigant merupakan cairan atau zat padat yang murah menguap atau menghasilkan gas yang mengandung halogen yang radikal (Cl, Br, F), misalnya chlorofikrin, ethylendibromide, naftalene, metylbromide, formaldehid, fostin.
  7. Petroleum.Minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan miksida. Minyak tanah yang juga digunakan sebagai herbisida.
  8. Antibiotik, Misanya senyawa kimia seperti penicillin yang dihasilkan dari mikroorganisme ini mempunyai efek sebagai bakterisida dan fungisida.
Dalam menentukan pestisida yang tepat, perlu diketahui karakteristik pestisida yang meliputi efektivitas, selektivitas, fitotoksitas, residu, resistensi,  LD 50, dan kompabilitas (Djojosumarto, 2008)
1. Efektivitas
Merupakan daya bunuh pestisida terhadap organisme pengganggu.  Pestisida yang baik seharusnya memiliki daya bunuh yang cukup untuk  mengendalikan organisme pengganggu dengan dosis yang tidak terlalu tinggi,  sehingga memperkecil dampak buruknya terhadap lingkungan.
2. Selektivitas
Selektivitas sering disebut dengan istilah spektrum pengendalian,  merupakan kemampuan pestisida untuk membunuh beberapa jenis organisme.Pestisida yang disarankan didalam pengendalian hama terpadu adalah pestisida yang berspektrum sempit.
3. Fitotoksitas
Fitotoksitas merupakan suatu sifat yang menunjukkan potensi pestisida untuk menimbulkan efek keracunan bagi tanaman yang ditandai dengan  pertumbuhan yang abnormal setelah aplikasi pestisida.
4. Residu
             Residu adalah racun yang tinggal pada tanaman setelah penyemprotan yang akan bertahan sebagai racun sampai batas tertentu. Residu yang bertahan  lama pada tanaman akan berbahaya bagi kesehatan manusia tetapi residu yang cepat hilang efektivitas pestisida tersebut akan menurun.
5. Persistensi
Persistensi adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang mempunyai persistensi tinggi akan sangat berbahaya karena dapat meracuni lingkungan.
6. Resistensi
             Resistensi merupakan kekebalan organisme pengganggu terhadap aplikasi suatu jenis pestisida. Jenis pestisida yang mudah menyebabkan resistensi organisme pengganggu sebaiknya tidak digunakan.
7. LD 50 atau Lethal Dosage 50%   Berarti besarnya dosis yang mematikan 50% dari jumlah hewan percobaan.
8. Kompatabilitas
            Kompatabilitas adalah kesesuaian suatu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif. Informasi tentang  jenis pestisida yang dapat dicampur dengan pestisida tertentu biasanya terdapat pada label di kemasan pestisida.

2.3. Pestisida Nabati (Biopestisida)
Istilah biopestisida terdiri dari tiga suku kata, yaitu bio, pest dan sida. Bio artinya hidup. Pest artinya hama atau organisme pengganggu yang dapat berupa penyakit atau bahkan menyebabkan kematian. Sida artinya pembunuh. Jadi biopestisida dapat diartikan sebagai semua bahan hayati, baik berupa tanaman, hewan, mikroba atau protozoa yang dapat digunakan untuk memusnahkan hama dan penyebab penyakit pada manusia, hewan, dan tanaman. Dalam istilah Indonesia sering juga para pakar di biang ini menyebutnya  dengan istilah agensia pengendali hayati (Indriani, T, 2006).
Menurut Thamrin dkk, (2008), Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida. Pestisida dari bahan nabati sebenarnya bukan hal yang baru tetapi sudah lama digunakan, bahkan sama tuanya dengan pertanian itu sendiri. Sejak pertanian masih dilakukan secara tradisional, petani di seluruh belahan dunia telah terbiasa memakai bahan yang tersedia di alam untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Pada tahun 40-an sebagian petani di Indonesia sudah menggunakan bahan nabati sebagai pestisida, diantaranya menggunakan daun sirsak untuk mengendalikan hama serangga
Secara ekonomis, maka biaya pestisida nabati yang dikeluarkan petani relatif lebih ringan dibanding pestisida sintetis, di mana harga pestisida sintetis di era sekarang lebih mahal. Pestisida nabati/ alami diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita. Pestisida nabati relatif lebih mudah dibuat dan didapat oleh petani dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Dari sisi lain pestisida alami/ nabati, mempunyai keistemewaan yang bersifat mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati bersifat lebih aman dan nyaman, yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu (bersifat kontak) dan setelah hamanya terbunuh, maka residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian, tanaman akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi. Penggunaan pestisida nabati dimaksudkan bukan untuk meninggalkan dan menganggap tabu penggunaan pestisida sintetis, tetapi hanya merupakan suatu cara alternatif agar pengguna tidak hanya tergantung kepada pestisida sintetis dan agar penggunaan pestisida sintetis dapat diminimalkan, sehingga kerasakan lingkungan yang diakibatkannyapun diharapkan dapat dikurangi dan waktunya kerasakan lingkungan dapat diperlambat pula. Kegunaan Pemakaian Pestisida Nabati : Untuk meminimalkan pemakaian pestisida sintetis sehingga dapat mengurangi kerasakan lingkungan; Untuk mengurangi biaya usahatani yang mana bahan pestisida  nabati  mudah  didapat yang tumbuh di sekitar kita dan  mudah  dibuat  oleh  siapapun khususnya  para  petani;  Tidak  membahayakan  kesehatan  bagi  manusia  dan  ternak peliharaan (Anonim,2010).
Adapun  Tumbuhan yang di jadikan pestisida nasbati adalah sebagai berikut:
  1. Insektisida
 Adapun beberapa tumbuhan yang dapat dijadikan insektisida hayati adalah sebagai berikut :
ü  Sirsak (Annona muricata) dan Tembakau (Nicotiana tabacum)
Bagian          : Daun, biji (sirsak) dan Daun (tembakau).
Pembuatan    : 50 lembar daun sirsak diremas-remas dicampur 1 ons tembakau, direndam dalam1 liter air selama 24 jam. Air rendaman disaring dan dilarutkan dalam 28 liter air kemudian disemprotkan. Akan lebih efektif dan efisien bila dikombinasikan dengan perangkap seperti tersebut diatas.
Sasaran         : Walang sangit.
Kandungan   : Annonain (sirsak) dan nikotin (tembakau)
ü  Mimba(Azadirachta indica)
Bagian          : Daun dan biji.
Pembuatan    : Biji dan daun ditumbuk (1 Kg) lalu direbus dengan air 5 liter dan
didinginkan selama 1  malam kemudian disaring.
Sasaran         : Ulat, kutu, kumbang dan penggerek.
Kandungan   : Azadirachtin, meliantriol dan salanin.
ü  Tomat (Lycopersicum esculentum)
Bagian     : Batang dan daun.
Pembuatan : Didihkan batang dan daun tomat lalu disaring dan didinginkan. Akan lebih baik bila dicampur dengan sabun.
Kandungan   : Tomatin
Sasaran         : Berbagai serangga kecil.
  1. Fungisida
ü  Bawang Putih
Bagian : Umbi.
Pembuatan : 1 ons bawang putih ditumbuk dicampur dengan minyak mineral lalu direndam selama 2 hari. Tambahkan o,5 liter air dan 30 gram sabun lalu disaring. Penggunaan 3 sendok teh larutan dicampur 1 liter air.
Sasaran : Penyakit Fusarium.
ü  Lada (Piper nigrum)
Bagian : Biji. Sasaran : Cendawan. Dan Kandungan : Alkaloid, methylpyrrolie, pipervatine, chavincine,piperidine dan piperine.
  1. Bakterisida
ü  Mimba (Azadirachta indic)
Bagian : Daun dan biji.
Sasaran : Bakteri.
Kandungan : Azadirachtin, meliantriol dan salanin.
ü  Picung (Kluwek/Pangium edule)
Bagian : Biji.
Pembuatan : konsentrasi 30 g/l disemrotkan pada tanaman padi.
Sasaran : Penyakit kresek pada padi.

2.4. Teknik Aplikasi Pestisida
Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh aplikasi yang tepat, untuk menjamin pestisida tersebut mencapai jasad sasaran yang dimaksud, selain juga oleh faktor jenis dosis, dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak ada pestisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan tepat. Aplikasi pestisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida yang semaksimal mungkin terhadap sasaran yang ditentukan pada saat yang tepat, dengan liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah ditentukan sesuai dengan anjuran dosis (Wudianto, 1999). Wudianto (1999), adapun cara pemakaian pestisida yang sering dilakukan oleh petani adalah sebagai berikut :
ü  Penyemprotan (Spraying) : merupakan metode yang paling banyak digunakan. Biasanya digunakan 100-200 liter eceran insektisida per ha. Paling banyak adalah 1000 liter per ha sedangkan yang paling kecil 1 liter per ha seperti dalam ULV.
ü  Dusting : untuk hama rayap kayu kering cryptothermes, dusting sangat efisien bila dapat mencapai koloni karena racun dapat menyebar sendiri melalui efek prilaku trofalaksis.
ü  Penuangan atau penyiraman (pour on) : Misalnya untuk membunuh sarang semut, rayap, dan serangga tanah di persemaian.
ü  Injeksi batang : Dengan insektisida sisitemik bagi hama batang, daun, dan penggerek.
ü  Dipping : rendaman/pencelupan seperti untuk biji/benih Kayu.
ü  Fumigasi: penguapan, misalnya pada hama gudang atau kayu.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menaplikasikan sesuatu pestisida antara lain;
1.    Dosis Pestisida.
Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu aplikasi atau lebih. Sementara dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida tergantung dalam label pestisida. Sebagai contoh dosis insektisida diazinon 60 EC adalah satu liter per ha untuk sekali aplikasi, atau misal 400 liter larutan jadi diazinon 60 EC per ha untuk satu kali aplikasi sedangkan untuk dosis bahan aktif contohnya sumibas 75 SP dengan dosis 0,75 kg/ha (djojosumarto, 2008).
2.    Konsentrasi Pestisida
Konsentrasi penyemprotan adalah jumlah pestisida yang disemprotkan dalam satu liter air (atau bahan pengencer lainnya) untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) tertentu. Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida
·         Konsentrasi bahan aktif yaitu persentase bahan aktif pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan air
·         Konsentrasi formulasi yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air
·         Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu larutan jadi (Djojosumarto ,2008).
3.    Volume Semprot
Volume semprot adalah banyaknya larutan jadi insektisida yang digunakan untuk menyemprot hama/penyakit per satuan luas atau per satuan individu tanaman.
4.    Bahan Penyampur
Pestisida sebagai bahan racun aktif (active ingredients) dalam formulasi biasanya dinyatakan dalam berat/volume (di Amerika Serikat dan Inggris). Bahan-bahan lain yang tidak aktif yang dicampurkan dalam pestisida yang telah di formulasi dapat berupa:
·         Solvent adalah bahan cair telarut mis: alkohol, minyak tanah, xyline dan air. Biasanya bahan terlarut ini telah diberi deodorant (bahan penghilang bau tidak enak baik yang berasal dari pelarut maupun dari bahan aktif).
·         Sinergis adalah sejenis bahan yang dapat meningkatkan daya racun walaupun bahan itu sendiri mungkin tidak beracun, seperti sesamin (berasal dari biji wijen), dan piperonil butoksida.
·         Emulsifier merupakan bahan detergen yang akan memudahkan terjadinya emulsi bila bahan minyak diencerkan dalam air (Sastroutomo, 1992).
 Beberapa alat semprot untuk pengendalian hama / penyakit antar lain:
Ø  Knapsack Sprayer
Alat semprot yang sangat meluas digunakan, tidak hanya untuk menyemprot hama, tetapi juga untuk menyemprot gulma, bahkan untuk menyemprot tanaman dengan pupuk cair. Alat ini hanya bisa untuk bahan cair dengan bahan pelarut air. Kapasitas tangki antara 15-20 liter dioperasikan secara manual dengan pompa tangan dan daya jangkaunya sangat terbatas yaitu  2 meter.
Ø  Mist Blower
Alat semprot yang dioperasikan dengan tenaga mesin. Bisa digunkan untuk bahan cairan, tepung dan butiran. Daya jangkaunya ± 10 meter. Kapasitas tengki 14 liter.
Ø  Pulsfog
Alat semprot yang dioperasikan dengan tenaga mesin digunakan hanya untuk bahan cair, dimana keluarnya berupa kabut. Penyemprotan dilakukan pada malam hari pada saat kabut sudah mulai turun.
Alat-alat aplikasi pestisida hendaknya selalu di kalibrasi pada waktu yang berkala. Kalibrasi merupakan proses untuk mendapatkan standar dan prosedur yang tepat dalam melaksanakan penyemprotan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pestisida dan kualitas alat semprot, sehingga penggunaan pestisida tidak kurang atau kelebihan. Dalam melakukan kalibrasi hal yang diperhatikan adalah kecepatan jalan harus konstan, tekanan semprot sprayer tetap, ukuran/tipe nozzel, ketinggian nozzel di atas permukaan tanah.
2.5. Formulasi Pestisida
Menurut Butarbutar (2009), pestisida dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan dahulu. Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat-sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Pestisida yang dijual telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya pemakai tinggal mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam manual.
Menurut Munaf (1997), yang dimaksud dengan formulasi (formulated product), ialah komposisi dan bentuk pestisida yang dipasarkan. Pestisida yang terdapat dipasaran umumnya tidaklah merupakan bahan aktif 100%, karena selain zat pengisi atau bahan tambahan yang tidak aktif 100%, karena selain zat pengisi atau bahan tambahn yang tidak aktif (inert ingridient) juga da yang berisi campuran dari 2 atau lebih pestisida. Secara umum formulasi pestisida dapat digolongkan dalam 2 (dua) golongan besar yaitu formulasi cair dan formulasi padat. Formulasi cair biasanya terdiri dari bahan aktif, pelarut dan bahan tambahan seperti pengemulsi, perata, perekat dll, sedangkan formulasi padat umumnya mengandung bahan aktif, bahan pembawa (carier), pembasah dan perata.Formulasi pestisida sbagai berikut :
1)      Formulasi cair
Formulasi cair, terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah:
1.         Pekatan yang dapat diemulsikan (EC/Emulsifiable Concentrate), yaitu formulasi cair yang dibuat dengan melarutkan bahan aktif dalam pelarut tertentu dan dengan menambahkan satu macam atau lebih surfactant atau pengemulsi. Pelarut yang digunakan biasanya adalah xilen, nafta atau kerosene. Formulasi ini biasa digunakan dicampur dengan air dan akan segera menyebar berupa butir-butir sangat kecil yang tersebar dalam air. Bila campuran ini dibiarkan terlalu lama maka akan terbentuk dua larutan yang terpisah, oleh karena itu bila telah bercampur dengan air, pestisida ini harus segera diaplikasikan/digunakan.
2.         Pekatan yang larut dalam air (WSC/SCW/Water Soluble Concentrate), merupakan formulasi cair yang terdiri dari bahan aktif yang dilarutkan dalam pelarut tertentu (organik) yang dapat bercampur dengan air itu sendiri atau air itu sendiri sebagai pelarut.
3.         Pekatan dalam air (AC/Aqueous Concentrate), merupakan pekatan pestisida yang dilarutkan dalam air. Biasanya adalah bentuk garam dari herbisida asam yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air seperti asam 2,4 – D atau 2,4 dichlorofenoksiasetat.
2)      Formulasi Padat
Formulasi Padat, terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah:
a         Tepung (Suspensi)
            Tepung yang dapat disuspensikan (WP/Wetable Powder atau DP /Dispersible powder), adalah tepung kering yang halus, yang apabila dilarutkan dalam air akan membentuk suspensi. Apabila bahan aktif berupa padatan, maka bahan aktif tersebut ditumbuk halus dan kemudian dicampur dengan bahan pembawa inert yang sesuai, misalnya tanah liat. Apabila bahan aktif berupa cairan, maka bahan aktif tersebut disemprotkan pada bahan pembawa yang kering. Besar partikel tepung biasanya tidak lebih besar dari 45 mikron.
b        Tepung (Dilarutkan)
Tepung yang dapat dilarutkan (SP/Soluble Powder), formulasi ini hampir sama dengan formulasi WP, tetapi bahan aktif maupun bahan pembawa dan bahan lainnya dalam formulasi ini dapat langsung larut dalam bahan cair sebagai pengencer, yang umumnya adalah air.
c         Butiran (G/Granular)
            Butiran (G/Granular), dalam formulasi pestisida butiran, bahan aktif dicampur dengan, dilapisi oleh atau menempel pada bagian luar dari bahan pembawa yang inert, seperti tanah liat, pasir, atau tongkol jagung yang ditumbuk. Formulasi butiran digunakan langsung dengan menebarkannya tanpa dicampur dengan bahan pengencer. Kadar bahan aktif pada formulasi ini berkisar antara 1 – 40%.
d        Debu (D/Dust)
            Debu (D/Dust)  pestisida dalam bentuk debu terdiri dari bahan pembawa yang kering dan halus, yang mengandung bahan aktif 1 -10 persen, ukuran partikelnya berkisar lebih kecil dari 75 mikron. Formulasi ini biasanya digunakan dengan alat khusus yang disebut duster, aplikasinya tanpa dicampur dengan bahan lain dan dimanfaatkan untuk mengatasi pertanaman yang berdaun rimbun/lebat, karena partikel debu dapat masuk keseluruh bagian pohon.
e         Oli (oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.
f         Fumigansia (fumigant)
Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.
2.6.Residu Pestisida
Menurut Deptan tahun 2007, residu pestisida adalah sisa pestisida, termasuk hasil perubahannya yang terdapat pada atau dalam jaringan manusia, hewan, tumbuhan, air, udara atau tanah (Deptan, 2011). Selain itu, residu pestisida juga diartikan sebagai sisa pestisida yang ditinggalkan sesudah perlakuan dalam jangka waktu yang telah menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa khemis dan fisis mulai bekerja. Karena residu mempunyai pengertian bahan sisa yang telah ditinggal cukup lama, maka bahan residu sudah tak efektif lagi sebagai racun langsung, namun masih berbahaya karena dapat terakumulasi (Martono, 2009).
Di alam, pestisida diserap oleh berbagai komponen lingkungan yang kemudian terangkut ke tempat lain oleh air, angin atau oleh jasad hidup yang berpindah tempat. Dengan masih terdeteksinya residu di alam maka akan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem yang me- nyebabkan kematian pada beberapa spesies seperti cacing tanah, ular sawah, katak dan berbagai jenis serangga yang sebenarnya bukan sasaran untuk dibunuh. Residu tersebut juga akan membahayakan hewan yang mengkonsumsi hijauan yang tumbuh di daerah tersebut yang menjadi sumber pakan . Hal lainnya adalah terakumulasinya residu tersebut pada hewanhewan air (ikan) seperti yang dilaporkan di daerah Lembang dan Pangalengan dan residu turunan DDT pada udang, kepiting dan ikan di daerah Cimanuk (Faedah et al.,1993) .
Terjadinya pencemaran pestisida terhadap lingkungan termasuk danau disebabkan oleh beberapa hal seperti cara aplikasi, wujud pestisida saat diaplikasikan, sifat tanah dan tanaman, volatilitas dan solubilitas pestisida, serta iklim (Ahlrichs, et al., 1974;  Waldron, 1992; Kerle, et al., 1996). 





BAB. III
METODE PELAKSANAAN


3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum Pestisida dan Teknik Aplikasi dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara pada bulan April s/d  Mei 2014.
3.2. Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum  Pestisida dan Teknik Aplikasi adalah : Cawan Petri, Encase, Bunsen, Tes tub, Rak tes tub, Gelas air mineral, Gelas piala, Hot plate, stoptwatch ,Blender, pisau,  Alat tulis, Buku tulis, Kamera.
            Bahan yang digunakan dalam praktikum Pestisida dan Teknik Aplikasi adalah : Jamur Phatogen ( Fusarium moniliform ),Insektisida : (Decis (deltametrin 29 g/L),Soffel (Diethyltoluamido) Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin), Ekstrak daun pepaya (carica papaya), Hama kutu , Ikan buntat, Botol pestisida (Insektisida,Herbisida, Bakterisida, Fungisida),aluminium oil.
3.3. Metode Pelaksanaan
3.3.1.Formulasi Pestisida
            Dalam pelaksanaan praktikum formulasi pestisida adalah : Mencatat nama dagang, bahan aktif,bentuk formulasi dan OPT sasaran Pestisida.

3.3.2. Uji efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen secara In vitro
            Adapun Tahapan pelaksanaan Uji efektivitas Insektisida Terhadap Jamur patogen secara In vitro adalah sebagai berikut :
Ø  Menyiapkan PDA (Potato dekstrosa agar) dengan campuran insektisida dan PDA (Potato dekstrosa agar) tanpa insektisida sebagai kontrol.
Ø  Menyiapkan biakan murni jamur pathogen (fusarium moniliforme)
Ø  Panaskan media PDA (Potato dekstrosa agar) sampai mencair dan biarkan dingin sampai temperatur 50 0 C.
Ø  Tuangkan PDA kedalam petridish dan biarkan sampai dingin dan padat.
Ø  Sterilkan Jarum ose, ambil jamur dari biakan murni dan pindahkan secepatnya pada bagian tengah petridish yang berisi  PDA (Potato dekstrosa agar) dengan campuran insektisida dan PDA (Potato dekstrosa agar) tanpa insektisida sebagai kontrol.
Ø  Setelah di inkubasi selama 2 × 24 jam amati pertumbuhannya dengan mengukur diameter pertumbuhan jamur dan gambar atas dan bawah petridish .

3.3.3. Uji Residu Pestisida
            Adapun tahapan pelaksanaan Uji residu pestisida adalah sebagai berikut :
Ø  Menyiapkan bahan-bahan Insektisida ( bahan aktif deltametrin ) dan pestisida fumigan. (Diethyltoluamido) Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin),
Ø  Siapkan Ikan buntat sebanyak ± 12 ekor,masing-masing 3 ekor dengan 4 perlakuan yaitu : soffel , baygon,soffel dan baygon dan decis.
Ø  Masukkan ikan secara bersamaan kedalam perlakuan yang disediakan.
Ø  Amati berapa lama ikan dapat bertahan sampai ikan benar-benar mati ,dengan menggunakan stoptwatch
Ø  Keluarkan ikan tersebut,kemudian gambar (fhoto)
3.3.4. Uji Efektivitas Pestisida Nabati
Tahapan pelaksanaan Uji Efektivitas Pestisida Nabati adalah sebagai berikut :
Ø  Menyiapkan alat dan bahan pembuatan pestisida hayati yaitu : Pisau, blender,tes tub ,Daun pepaya (Carica papaya ),deterjen,serangga hama.
Ø  Pembuata pestisida hayati sebagai berikut : Potong-potong daun pepaya secukupnya,rendam daun pepaya.Setelah mendapatkan ekstrak daun pepaya kemudian tambahkan deterjen secukupnya,gunanya sebagai bahan perekat.
Ø  Setelah mendapatkan ekstrak daun pepaya kemudian ambil serangga hama untuk pengujian secara in vitro.
Ø  Masukkan serangga hama beserta tanaman yang diserang kedalam tes tub.
Ø  Masukkan ekstrak pestisida nabati ke dalam tes tub tersebut dengan cara di tuang dan di percikkan.kemudian tutup dengan aluminium oil.
Ø  Amati berapa lama serangga hama tersebut bertahan di dalam tes tub.
BAB. IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.Hasil
4.1.1.Formulasi Pestisida
Hasil dari praktikum formulasi pestisida adalah sebagai berikut :
No
Nama Dagang
Bahan Akktif
Formulasi
OPT Sasaran
1
Curacron
Profenofos 500 g/l
500 Ec
Insektisida
2
Decis 25 Ec
Deltametrin 25g/L
25 Ec
Insektisida
3
Gromoxone
276 SL
Parakuat diklorida 276g/L
276 SL
Herbisida
4
Roundup 486 Sl
Isopropilamina 486 g/L
486 SL
Herbisida
5
Dhithaen M 45
Mankozeb
45%
Fungisida
6
Ridomil 35 SD
Metalaksil 35 20 %.
35 SD
Fungisida
7
Antracol 70 WP
Propineb 70%
70 WP
Fungisida

4.1.2. Uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen secara In vitro
            Hasil praktikum Uji efektivitas insektisida terhadap jamur (Fusarium moniliforme) pathogen  secara In vitro adalah sebagai berikut :
No
Pengamatan
Diameter jamur cm
1
Pengamatan I








Insektisida


2,8 Cm
Tanpa Insektisida (Kontrol)

2.7 cm
2
Pengamatan 2
Insektisida


2.3 cm
Tanpa insektisida (Kontrol)


2.3 cm
3
Pengamatan 3
Insektisida

3 cm
Tanpa Insektisida (Kontrol)


2.8 cm


Total
Insektisida
8.1 cm
 Tanpa Insektisida (Kontrol)
7.8 cm

4.1.3.Uji Residu Pestisida
            Hasil praktikum Residu pestisida adalah sebagai berikut :
No
Perlakuan
Waktu Pengamatan
Keterangan
1




2
Insektisida Decis (Deltametrin)
Soffel (Diethyltoluamido)
6.36 Menit




11.34 Detik
Mati






Mati
3
Soffel (Diethyltoluamido) dan Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin)
18.19 Detik

Mati

4
Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin)
02.33 Jam
Mati

4.1.4. Uji Efektivitas Pestisida Nabati
            Hasil Praktikum Uji residu pestisida adalah sebagai berikut :
No
Perlakuan
Waktu Pengamatan
Keterangan
1
Dipercikkan dan disiram
Dipercikkan
Disiram

Mati
02.50 jam
01.20 jam


4.2.Pembahasan
4.2.1. Formulasi Pestisida
            Hasil praktek formulasi pestisida terdapat 7 jenis pestisida (Insektisida,Herbisida, Fungisida) dengan nama dagang Curacron,Decis 25 Ec, Gromoxon 276 SL, Roundup 486 SL, Dhithaen M 45, Ridomil 35 SD, Antracol 70 WP.
Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat – sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Formulasi pestisida yang dipasarkan terdiri atas bahan pokok yang disebut bahan aktif (active ingredient) yang merupakan bahan utama pembunuh organisme pengganggu dan bahan ramuan (inert ingredient).  Jika dilihat dari struktur kimianya, bahan aktif ini bisa digolongkan menjadi kelompok organic sintetik, orgnik alamiah dan inorganic. Bahan aktif ini jenisnya sangat banyak sekali. Tahun 1986 badan proteksi lingkungan Amerika Serikat mencatat ada 2600 bahan aktif yang sudah dipasarkan. Dan diseluruh dunia ada 35000 formulasi atau merk dagang (Solekhah, 2012).
Bentuk pestisida yang merupakan formulasi ini ada berbagai macam. Formulasi ini perlu dipertimbangkan oleh calon konsumen sebelum membeli untuk disesuaikan dengan kesediaan alat yang ada, kemudahan aplikasi, serta efektifitasnya (Solekhah, 2012).
Pada pestisida GRAMOXONE 276 SL dengan formulasi cair dan jenis pestisida soluble liquid (SL) ketika ditambahkan pelarut air maka bentuk adukan jadinya adalah larutan. Formulasi pestisida tercampur sempurna pada pelarut air, tidak meninggalkan endapan maupun gumpalan. Warna larutan adukan jadi adalah hijau.
Pestisida memiliki nama dagang Ridomil 35 SD. Pestisida ini termasuk kedalam golongan fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Metalaksil 35 20 %. Jenis formulasinya adalah Solution (S), dengan OPT sasaran beberapa jenis jamur/cendawan terutama jamur/cendawan yang menyebabkan penyakit bulai. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, ridomil 35 SD diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman.
Pestisida memiliki nama dagang Antracol 70 WP. Pestisida ini termasuk kedalam golongan Fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Propineb 70 %. Jenis formulasinya adalah Wettable Powder (WP), dengan OPT sasaran beberapa jenis jamur/cendawan terutama Alternaria pada penyakit bercak ungu. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, Antracol 70 WP diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada areal petanaman yang terserang.

4.2.2. Uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen secara In vitro
            Hasil uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen Fusarium moniliform secara In vitro, perbandingan antara pemakaian insektisida ( Deltametrin) dan tanpa insektisida (kontrol). pemakaian insektisida tidak menghambat pertumbuhan jamur Fusarium moniliforme bahkan pertumbuhan jamur dengan pemakaian insektisida lebih cepat di bandingkan dengan perlakuan kontrol.
Menurut Agrios (1997) kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman dan kurang mendukung bagi perkembangan patogen akan memperlambat masa inkubasi, sehingga patogen membutuhkan waktu lebih lama untuk menginfeksi tanaman. Jumlah spora merupakan factor yang mempengaruhi terhadap infeksi. Makin tinggi kepadatan hifa makin banyak spora yang dihasilkan. Banyaknya hifa yang tumbuh dan bersinggungan dengan permukaan akar memacu keberhasilan infeksi terhadap pathogen (Hepper dalam Winarsih dan Baon, 1999). Jumlah spora jamur ditentukan oleh lamanya masa inkubasi. Laju infeksi meningkat dengan makin lamanya masa inkubasi dan mkin banyaknya spora.

4.1.3.Uji Residu Pestisida
Hasil Uji residu pestisida terhadap ikan buntan dengan 4 perlakuan yaitu : Perlakuan dengan Insektisida (bahan aktif Deltametrin),perlakuan soffel(Diethyltoluamido) Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin),dan perlakuan Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin) digabung dengan soffel (Diethyltoluamido),Diantara 4 perlakuan tersebut ikan yang paling cpat mati pada perlakuan soffel dengan waktu 11.34 detik dan yang paling lama ikan dapat bertahan pada perlakuan baygon dengan waktu 02.33 jam.

Di alam, pestisida diserap oleh berbagai komponen lingkungan yang kemudian terangkut ke tempat lain oleh air, angin atau oleh jasad hidup yang berpindah tempat. Dengan masih terdeteksinya residu di alam maka akan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem yang menyebabkan kematian pada beberapa spesies seperti cacing tanah, ular sawah, katak dan berbagai jenis serangga yang sebenarnya bukan sasaran untuk dibunuh. Residu tersebut juga akan membahayakan hewan yang mengkonsumsi hijauan yang tumbuh di daerah tersebut yang menjadi sumber pakan . Hal lainnya adalah terakumulasinya residu tersebut pada hewan hewan air (ikan) seperti yang dilaporkan di daerah Lembang dan Pangalengan dan residu turunan DDT pada udang, kepiting dan ikan di daerah Cimanuk (Faedah, et al, 1993) .
Umur dan jenis ikan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi variasi konsentrasi pada ikan. Makin tua umur ikan makin besar ukurannya, makin banyak pula lemak pada tubuh ikan, menyebabkan makin banyak residu pestisida yang terakumulasi. Persentase lemak pada tiap jenis ikan juga berbeda-beda, menyebabkan residu pestisida dari suatu jenis ikan akan berlainan dengan jenis ikan lainnya. Perubahan musim juga dilaporkan memiliki pengaruh dalam variasi konsentrasi pestisida pada ikan. Di Danau Paranoa Brasil, dilaporkan residu DDT pada sampel yang diambil pada musim kemarau lebih besar dibanding sampel yang diambil pada musim hujan (Caldas, 1999).
Data residu cemaran pestisida golongan karbamat yang didapatkan ini memang masih jauh di bawah nilai amabang batas yang diizinkan, namun dengan penggunaan pestisida yang berkelanjutan tidak menutup kemungkinan terjadi bioakumulasi yang kemudian disertai dengan biomagnifikasi. Kalau hal ini terjadi maka sudah barang tentu akan dapat memberikan dampak negatif. Namun demikian, mengingat di lingkungan juga terjadi proses degradasi pestisida yang dapat diakibatkan oleh sinar matahari maupun bakteri sehingga hal ini dapat mengurangi residu cemaran. Demikian juga waktu paruh dari pestisida yang relatif singkat juga mengakibatkan residu pestisida golongan fosfat-organik ini dapat berkurang (Anonim, 1996)
4.2.4.Uji Efektivitas Pestisida Nabati
            Hasil uji efektivitas pestisida nabati dengan perlakuan dipercikkan (di semprot ) dan perlakuan di siramkan (di celupkan ) hama kutu daun ( Aphis sp) yang paling cepat mati yaitu pada perlakuan di siramkan (di celupkan ) dengan waktu  01.20 Menit dan untuk perlakuan di percikkan (di semprot) 02.50 Menit. Hal ini diduga tingginya konsentrasi ekstrak daun pepaya yang digunakan, sehingga daya racunnya akan semakin tinggi, maka akan semakin cepat mematikan hama kutu daun Aphis gossypii. Hal ini sesuai dengan pendapat Dewi (2010) menyatakan bahwa konsentrasi ekstrak yang lebih tinggi maka pengaruh yang ditimbulkan semakin tinggi, disamping itu daya kerja racun suatu senyawa sangat ditentukan oleh besarnya konsentrasi.
Mekanisme masuknya senyawa papain yang dihasilkan dari ekstrak daun pepaya ke tubuh kutu daun Aphis gossypii secara kontak. Namun insektisida senyawa papain juga bekerja sebagai racun kontak, dengan proses masuknya cairan ekstrak daun pepaya ke dalam tubuh serangga melalui lubang-lubang alami. ekstrak daun pepaya apabila mengenai kutu daun Aphis gossypii, maka kutu daun Aphis gossypii akan mati secara berlahan-lahan dan akhirnya mati. Menurut Untung (2006) racun kontak dapat terserap melalui kulit pada saat pemberian insektisida atau dapat pula terkena sisa insektisida (residu) beberapa waktu setelah penyemprotan.
Selanjutnya insektisida masuk ke dalam tubuh kutu daun Aphis gossypii, maka insektisida bekerja sebagai racun perut. Mekanisme kerja racun perut di dalam tubuh kutu daun Aphis gossypii diserap oleh dinding ventrikulus pada pencernaan kutu daun Aphis gossypii kemudian ditrans lokasikan menuju ke pusat saraf kutu daun Aphis gossypii sehingga dapat menganggu aktivitas metabolismeserangga dan menyebabkan penurunan aktivitas makan serangga dan akhirnya serangga mati(Trizelia, 2001)



BAB. V
KESIMPULAN



5.1. Kesimpulan
1.      Adapun hasil praktek formulasi pestisida terdapat 7 jenis pestisida (Insektisida,Herbisida, Fungisida) dengan nama dagang Curacron,Decis 25 Ec, Gromoxon 276 SL, Roundup 486 SL, Dhithaen M 45, Ridomil 35 SD, Antracol 70 WP.
2.      Hasil uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen Fusarium moniliform secara In vitro, perbandingan antara pemakaian insektisida ( Deltametrin) dan tanpa insektisida (kontrol). pemakaian insektisida tidak menghambat pertumbuhan jamur Fusarium moniliforme bahkan pertumbuhan jamur dengan pemakaian insektisida lebih cepat di bandingkan dengan perlakuan kontrol.
3.      Hasil Uji residu pestisida terhadap ikan buntan dengan 4 perlakuan yaitu : Perlakuan dengan Insektisida (bahan aktif Deltametrin),perlakuan soffel(Diethyltoluamido) Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin),dan perlakuan Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin) digabung dengan soffel (Diethyltoluamido),Diantara 4 perlakuan tersebut ikan yang paling cpat mati pada perlakuan soffel dengan waktu 11.34 detik dan yang paling lama ikan dapat bertahan pada perlakuan baygon dengan waktu 02.33 jam.
4.      Hasil uji efektivitas pestisida nabati dengan perlakuan dipercikkan (di semprot ) dan perlakuan di siramkan (di celupkan ) hama kutu daun ( Aphis sp) yang paling cepat mati yaitu pada perlakuan di siramkan (di celupkan ) dengan waktu  01.20 Menit dan untuk perlakuan di percikkan (di semprot) 02.50 Menit.
5.2.Saran
            Penulis menyarankan untuk praktikum selanjutnya dalam praktek Pestisida dan Teknik Aplikasi, turun kelapangan mengaplikasikan pestisida . dan melihat bagaimana dampak negatif penggunaan pestisida sintetik.
DAFTAR PUSTAKA



Agrios. 1997. Plant pathology 4 ed.Academic Press, NewYork.

Anonim. 1996. Pesticide Wise. Government of British Columbia: Ministry of
Agriculture and Lands

Anonim. 2002. Water Sampling Procedure. Queensland, Australia: The State of
Queensland (Department of Natural Resources and Mines)

Caldas E.D., Coelho R., Souza L.C.K.R., Ciba S.C. 1999. Organochlorine
Pesticide in Water, Sediment, and Fish of Paranoa Lake of Brazilia Brazil  Bulletin of Environmental Contamination and Toxicology, 62(2), 199-206.

Dewi, R. S. 2010. Keefektifan Ekstrak Tiga Jenis Tumbuhan Terhadap
Paracoccus marginatus dan Tetranychus sp. pada Tanaman JarakPagar (atropha curcas ) Tesis Program Pascasarjana. IPB. Bogor.

Maryam, A. & Nurdin. 1994. Pengaruh Tingkat Konsentrasi Perasaan Biji
Mahoni Palpitaunionalis hubn. Proseding Seminar Nasional. Bogor.

Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada 
University Press. Yogyakarta

Winarsih, S. dan J.B. Baon, 1999. Pengaruh Masa Inkubasi dan Jumlah Spora \
Terhadap InfeksiMikoriza dan Pertumbuhan Planet Kopi. Pelita Perkebunan, Journal Penelitian Kopi dan Kakao Vol 15 No.1.

Oginawati   K.   2005.  Analisis   Risiko   Penggunaan Insektisida   Organofosfat  
Terhadap   Kesehatan Petani   Penyemprot.   Universitas   Sumatera Utara. http://www.usu.ac.id. 9 April 2013.

Pawitra A. S. 2012. Pemakaian   Pestisida   Kimia   Terhadap   Kadar   Enzim
Cholinesterase dan Residu Pestisida Dalam Tanah. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Media Husada I Volume 01/Nomor 01/Agustus 2012.

Siswanto, 1991 dan Depkes 2000.  Kejadian Anemia Dan Keracunan Pestisida
Pekerja Penyemprot Gulma Di Kebun  Kelapa     Sawit    PT   Agro    Indomas      Kab.   Seruyan   Kalimantan   Tengah.   Semarang, Universitas   Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id. 9 April 2013.       

Sudarmo, 1991. Pengaruh Penggunaan Pestisida Terhadap Kondisi Tanah dan
Mikroorganisme Tanah. www. usu. Repository.ac.id. 2013.

Wudianto, 2010. Pestisida dan Teknik Aplikasi. Kanisius. Yogyakarta.

LAMPIRAN

Dokumentasi Fhoto

                   

Gambar Uji efektivitas insektisida jamur pathogen dan kontrol

Gambar alat dan bahan praktek Uji residu pestisida



    

Gambar :Proses pembuatan Pestisida Nabati




Tidak ada komentar:

Posting Komentar