LAPORAN HASIL PRAKTEK
PESTISIDA DAN TEKNIK APLIKASI
Dosen Pengasuh :
Dini Puspita Yanti Nst, SP. MS.i
OLEH
HOPMAN SIREGAR
NPM: 2011 11 127
Program
Studi : Agroteknologi

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014
Judul Praktek :
Pestisida dan Teknik Aplikasi
Nama :
Hopman Siregar
NPM :
2011 11 127
Program Studi :
Agroteknologi
Dosen Pengasuh :
Dini Puspita Yanti Nst, SP.MP
Asisten :
1. Halidah Edi Harahap
2. Nurul Hidayah Pakpahan
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji dan syukur kita ucapkan kahadirat
Allah SWT atas limpahan rahmat dan ridho – Nya penulis dapat
menyelesaikan penulisan laporan praktikum PESTISIDA DAN
TEKNIK APLIKASI , tepat pada waktunya.
Penulis
juga mengucapkan terimakasih pada Ibu Dini Puspita Yanti ,SP selaku dosen
pengasuh, Adinda Halidah Edi Hrp dan Nurul Hidayah , selaku asisten dosen
yang telah memberikan bantuan, arahan, dan dorongan kepada penulis untuk
menyelesaikan dan penulisan laporan pratikum ini, dan tak lupa pula penulis
ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang ikut membantu penulisan
laporan pratikum ini.
Penulis
sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan penulisan laporan pratikum
ini. Tapi mungkin terdapat beberapa kekurangan dan kelemahannya, untuk itu
penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan penulisan laporan pratikum ini.
Padang Sidempuan, Juli 2014
HOPMAN SIREGAR
NPM: 2011 11 127
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................ ii
BAB. I PENDAHULUAN.......................................................... 1
1.1. Latar Belakang............................................................ 1
1.2.Tujuan........................................................................... 3
BAB. II TINJAUAN PUSTAKA............................................... 4
2.1. Pesisida......................................................................... 4
2.2. Pestisida Sintetik.......................................................... 7
2.3. Pestisida Nabati........................................................... 9
2.4. Teknik Aplikasi Pestisida............................................ 12
2.5. Formulasi Pestisida...................................................... 15
2.6. Residu Pestisida........................................................... 18
BAB III. METODE PELAKSANAAN..................................... 19
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan............................... 19
3.2. Alat dan Bahan ........................................................... 19
3.3. Pelaksanaan................................................................. 19
3.3.1.Formulasi Pestisida................................................. 19
3.3.2. Uji
efektivitas Insektisida Terhadap Jamur
Phatogen secara In vitro....................................... 19
3.3.3. Uji Residu Pestisida................................................ 20
3.3.4. Uji Efektivitas Pestisida Nabati............................. 20
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN................................... 21
4.1.Hasil............................................................................... 21
4.2. Pembahasan................................................................. 23
BAB V. PENUTUP..................................................................... 28
5.1.Kesimpulan................................................................... 28
5.2. Saran............................................................................ 28
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB. I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida berasal dari
kata caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat diartikan secara
sederhana sebagai pembunuh hama. Menurut Food Agriculture Organization (FAO)
1986 dan peraturan pemerintah RI No. 7 tahun 1973, Pestisida adalah campuran
bahan kimia yang digunakan untuk mencegah, membasmi dan mengendalikan
hewan/tumbuhan penggangu seperti binatang pengerat, termasuk serangga penyebar
penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia. Pada umumnya pestisida,
terutama pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap
jasad pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan
jasad bukan target termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya
(Tarumingkeng, 2008).
Secara garis besar, pestisida dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu
pestisida organoklorin (hidrokarbon berklor), organofosfat (fosfat organik) dan
karbamat . Formulasi bahan-bahan pestisida yang beredar dipasar digolongkan
berdasarkan kemampuan suatu bahan atau zat-zat aktif yang terkandung didalamnya
dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman yang digolongkan kedalam 5
golongan, yaitu :
1
Herbisida merupakan
kelompok pestisida yang khusus mengandung bahan atau zat-zat yang mampu
mengendalikan gulma baik itu gulma rerumputan, teki-tekian, kayu-kayuan,
berdaun lebar, dan berdaun sempit
2
Fungisida merupakan
kelompok pestisida yang berfungsi untuk mengendalikan serangan jamur dan
cendawan penyebab penyakit pada tanaman budidaya .
3
Nematisida adalah
pestisida yang berfungsi mengendalikan serangan hama dari golongan cacing, ulat
dan nematoda.
4
Insektisida merupakan
pestisida yang diaplikasikan untuk mengendalikan hama dari golongan insekta
seperti semut, serangga, lalat, lebah dll
5
Rodentisida untuk mengendalikan hama
tikus.
Bentuk
formulasi pestisida pada garis besarnya ada 3 macam yang pertama bentuk
formulasi cair pekat yang dilambangkan dikemasan dengan huruf “ EC”. Kedua,
butiran (granula) dengan lambang huruf “G” dan yang ketiga bentuk tepung
(wartabke powder yang biasanya di lambangkan pada kemasan produk pestisida
dengan huruf “W atau WP”. Cara mengaplikasikannya dari setiap bentuk formulasi
berbeda namun dapat juga melalui penyemprotan (aplikasi yang paling banyak
digunakan) seperti dengan pengenceran. Adapun cara mengaplikasikan pestisida kelapangan
dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut :
1. Penyemprotan
2. Injeksi
3. Fumigasi
4. Dusting
5. Penaburan Namun pada
prinsipnya,
Apapun cara
aplikasinya tetap tujuannya adalah untuk mengendalikan OPT yang harus
memeprhatikan penggunaan dosis, jenis OPT yang akan dikendalikan, jenis
pestisida yang akan dipakai, kapan waktu pengaplikasiannya, dan cara aplikasi
yang akan dipakai juga musti tepat atau yang dikenal dengan istilah 5 T ( tepat dosis,
tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat cara aplikasi dan tepat OPT yang
akan dikendalikan).
Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT)
merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Penggunaan
pestisida dalam menopang peningkatan produk pertanian maupun perkebunan telah
banyak membantu untuk meningkatkan produksi pertanian. Namun demikian
penggunaan pestisida ini juga memberikan dampak negatif baik terhadap manusia,
biota maupun lingkungan. Erin, et. al.(2001)
1.2.Tujuan
1
Mahasiswa
mengetahui jenis-jenis formulasi pestisida dan bisa membedakan merek dagang,
bentuk formulasi dan bahan aktif pestisida tersebut.
2
Mahasiswa
mengetahui berbagai jenis-jenis tumbuhan yang bisa dijadikan pestisida nabati.
3
Mahasiswa
mampu mengaplikasikan pestisida untuk mengendalikan hama/ penyakit secara
invitro
4
Mahasiswa
mengetahui dampak negatif penggunaan pestisida bagi lingkungan.
BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pestisida
Pestisida (Inggris : pesticide)
berasal dari kata pest yang berarti hama dan cide yang berarti
mematikan/racun. Jadi pestisida adalah racun hama. Secara umum pestisida
dapat didefenisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan populasi
jasad yang dianggap sebagai pest (hama) yang secara langsung maupun tidak
langsung merugikan kepentingan manusia.
Menurut The United States Environmental Pesticide Control Act,
pestisida adalah sebagai berikut.
- Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama, kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang.
- Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman (Djojosumarto, 2004).
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1973, yang dimaksud
Pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus
yang dipergunakan untuk :
ü
Memberantas atau mencegah
hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman
atau hasil-hasil pertanian.
ü
Memberantas rerumputan atau
tanaman pengganggu/gulma.
ü
Mematikan daun dan mencegah
pertumbuhan yang tidak diinginkan.
ü
Mengatur atau merangsang
pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman, tidak termasuk pupuk.
ü
Memberantas atau mencegah
hama-hama luar pada hewan-hewan peliharaan dan ternak.
ü
Memberantas atau mencegah
hama-hama air.
ü
Memberantas atau mencegah
binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan
alat-alat pengangkutan.
ü
Memberantas atau mencegah
binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang
yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.
Dalam Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman,
yang dimaksud dengan Pestisida adalah zat pengatur dan perangsang tumbuh,
bahan lain, serta organisme renik, atau virus yang digunakan untuk
melakukan perlindungan tanaman.
Adapun penggolongan pestisida adalah sebagai berikut:
- Berdasarkan asal bahan yang digunakan untuk membuat pestisida, maka
pestisida
dapat dibedakan ke dalam empat golongan yaitu :
Ø Pestisida Sintetik, yaitu pestisida yang diperoleh
dari hasil sintesa kimia, contohnya organoklorin, organofospat, dan karbamat.
Ø
Pestisida
Nabati, yaitu pestisida yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, contohnya neem oil yang berasal dari pohon
mimba
Ø Pestisida Biologi, yaitu pestisida yang berasal dari
jasad renik atau mikrobia yaitu jamur, bakteri atau virus contohnya
Ø Pestisida Alami, yaitu pestisida yang berasal dari
bahan alami, contohnya bubur bordeaux (Sitompul, 1987).
- Pestisida berdasarkan cara kerjanya
Berdasarkan cara kerjanya, pestisida
dapat dibedakan kedalam beberapa
golongan yaitu:
ü Pestisida Kontak
yaitu pestisida yang dapat membunuh OPT (organisme pengganggu tanaman)
bila OPT tersebut terkena pestisida secara kontak langsung atau bersinggungan dengan
residu yang terdapat di permukaan tanaman. Contoh : Mipcin 50 WP.
ü Pestisida Sisitemik
yaitu pestisida yang dapat ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman.
OPT akan mati setelah menghisap/memakan tanaman, atau dapat membunuh gulma
sampai ke akarnya.
ü Pestisida Lambung yaitu pestisida yang mempunyai daya
bunuh setelah jasad sasaran makanan pestisida. Contoh : Diazinon 60 EC
ü Pestisida pernapasan yaitu : Dapat membunuh hama yang menghisap gas yang berasal dari
pestisida (Sudarmo, 1991).
- Pestisida Berdasarkan Organisme Sasaran
Menurut Untung
(1993), dari banyaknya jenis jasad penggangu yang bisa
mengakibatkan
fatalnya hasil petanian, pestisida dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa macam
sesuai dengan sasaran yang akan dikendalikan, yaitu :
ü Insektisida yaitu bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun yang bisa mematikan semua jenis serangga.
ü Fungisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan bisa digunakan untuk memberantas dan mencengah fungi/cendawan.
Selain untuk mengendalikan serangan cendawan di areal pertanaman, fungisida
juga banyak diterapkan pada buah dan sayur pascapanen.
ü Bakterisida adalah senyawa yang mengandung bahan aktif
beracun yang bisa membunuh bakteri.
ü Nematisida
adalah racun yang dapat mengendalikan nematode
ü Akarisida atau sering juga disebut dengan mitisida
adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk
membunuh tungau, caplak dan laba-laba.
ü Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun yang digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat,
misalnya tikus.
ü Moluskida adalah pestisida untuk membunuh moluska,
yaitu siput telanjang, siput setengah telanjang, sumpit, bekicot, serta
trisipan yang banyak terdapat di tambak.
ü Herbisida adalah bahan senyawa beracun yang dapat
dimanfaatkan untuk membunuh tumbuhan penggangu yang disebut gulma.
Pestisida di Indonesia adalah sebagai berikut insektisida 55,42%, herbisida
12,25%, fungisida 12,05%, repelen 3,61%, zat pengatur pertumbuhan 3,21%,
nematisida 0,44%, dan 0,40% ajuvan serta lain-lain berjumlah 1,41%. Dari
gambaran ini
insektisida merupakan jenis pestisida yang paling banyak digunakan (Soemirat,
2005)
2.2.Pestisida Sintetik (Kimia)
Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk
mengendalikan perkembangan/pertumbuhan dari hama, penyakit dan gulma. Tanpa
menggunakan pestisida akan terjadi penurunan hasil pertanian.Pestisida yang tersusun dan
unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering
digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih
sering dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor,
chlorine dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam
adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic. Secara garis
besar, pestisida dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu pestisida organoklorin
(hidrokarbon berklor), organofosfat (fosfat organik) dan karbamat .
Pestisida golongan organofosfat dan karbamat bersifat lebih toksik
dibandingkan pestisida golongan organoklorin serta berefek akut sehingga sering
menimbulkan keracunan pada hewan. Menurut Dep.Kes
RI Dirjen P2M dan PL 2000 dalam Meliala 2005, struktur kimia pestisida dapat
digolongkan menjadi :
- Golongan organochlorin misalnya DDT, Dieldrin, Endrin dan lain-lain. Umumnya golongan ini mempunyai sifat: merupakan racun yang universal, degradasinya berlangsung sangat lambat larut dalam lemak.
- Golongan organophosfat misalnya diazonin dan basudin. Golongan ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : merupakan racun yang tidak selektif degradasinya berlangsung lebih cepat atau kurang persisten di lingkungan, menimbulkan resisten pada berbagai serangga dan memusnahkan populasi predator dan serangga parasit, lebih toksik terhadap manusia dari pada organokhlor.
- Golongan carbamat termasuk baygon, bayrusil, dan lain-lain. Golongan ini mempunyai sifat sebagai berikut : mirip dengan sifat pestisida organophosfat, tidak terakumulasi dalam sistem kehidupan, degradasi tetap cepat diturunkan dan dieliminasi namun pestisida ini aman untuk hewan, tetapi toksik yang kuat untuk tawon.
- Senyawa dinitrofenol misalnya morocidho 40 EC. Salah satu pernafasan dalam sel hidup melalui proses pengubahan ADP(Adenesone-5-diphosphate) dengan bantuan energi sesuai dengan kebutuhan dan diperoleh dari rangkaian pengaliran elektronik potensial tinggi ke yang lebih rendah sampai dengan reaksi proton dengan oksigen dalam sel. Berperan memacu proses pernafasan sehingga energi berlebihan dari yang diperlukan akibatnya menimbulkan proses kerusakan jaringan.
- Pyretroid, salah satu insektisida tertua di dunia, merupakan campuran dari beberapa ester yang disebut pyretrin yang diekstraksi dari bunga dari genus Chrysanthemum. Jenis pyretroid yang relatif stabil terhadap sinar matahari adalah : deltametrin, permetrin, fenvalerate. Sedangkan jenis pyretroid yang sintetis yang stabil terhadap sinar matahari dan sangat beracun bagi serangga adalah : difetrin, sipermetrin, fluvalinate, siflutrin, fenpropatrin, tralometrin, sihalometrin, flusitrinate.
- Fumigant, merupakan senyawa atau campuran yang menghasilkan gas atau uap atau asap untuk membunuh serangga , cacing, bakteri, dan tikus. Biasanya fumigant merupakan cairan atau zat padat yang murah menguap atau menghasilkan gas yang mengandung halogen yang radikal (Cl, Br, F), misalnya chlorofikrin, ethylendibromide, naftalene, metylbromide, formaldehid, fostin.
- Petroleum.Minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan miksida. Minyak tanah yang juga digunakan sebagai herbisida.
- Antibiotik, Misanya senyawa kimia seperti penicillin yang dihasilkan dari mikroorganisme ini mempunyai efek sebagai bakterisida dan fungisida.
Dalam menentukan pestisida yang tepat, perlu diketahui karakteristik
pestisida yang meliputi efektivitas, selektivitas, fitotoksitas, residu,
resistensi, LD 50, dan kompabilitas
(Djojosumarto, 2008)
1. Efektivitas
Merupakan daya bunuh pestisida terhadap organisme pengganggu. Pestisida yang baik
seharusnya memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan
organisme pengganggu dengan dosis yang tidak terlalu tinggi, sehingga memperkecil
dampak buruknya terhadap lingkungan.
2.
Selektivitas
Selektivitas sering disebut dengan istilah spektrum pengendalian, merupakan kemampuan
pestisida untuk membunuh beberapa jenis organisme.Pestisida yang disarankan
didalam pengendalian hama terpadu adalah pestisida yang berspektrum sempit.
3.
Fitotoksitas
Fitotoksitas merupakan suatu sifat yang menunjukkan potensi pestisida untuk
menimbulkan efek keracunan bagi tanaman yang ditandai dengan pertumbuhan yang
abnormal setelah aplikasi pestisida.
4. Residu
Residu adalah racun yang tinggal pada tanaman
setelah penyemprotan yang akan bertahan sebagai racun sampai batas tertentu.
Residu yang bertahan lama pada tanaman akan berbahaya bagi kesehatan manusia
tetapi residu yang cepat hilang efektivitas pestisida tersebut akan menurun.
5. Persistensi
Persistensi adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam
tanah. Pestisida yang mempunyai persistensi tinggi akan sangat berbahaya karena
dapat meracuni lingkungan.
6. Resistensi
Resistensi merupakan kekebalan organisme
pengganggu terhadap aplikasi suatu jenis pestisida. Jenis pestisida yang mudah
menyebabkan resistensi organisme pengganggu sebaiknya tidak digunakan.
7. LD 50 atau Lethal
Dosage 50% Berarti besarnya dosis
yang mematikan 50% dari jumlah hewan percobaan.
8.
Kompatabilitas
Kompatabilitas
adalah kesesuaian suatu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain
tanpa menimbulkan dampak negatif. Informasi tentang jenis pestisida yang
dapat dicampur dengan pestisida tertentu biasanya terdapat pada label di
kemasan pestisida.
2.3. Pestisida Nabati (Biopestisida)
Istilah
biopestisida terdiri dari tiga suku kata, yaitu bio, pest dan sida. Bio artinya
hidup. Pest artinya hama atau organisme pengganggu yang dapat berupa penyakit
atau bahkan menyebabkan kematian. Sida artinya pembunuh. Jadi biopestisida
dapat diartikan sebagai semua bahan hayati, baik berupa tanaman, hewan, mikroba
atau protozoa yang dapat digunakan untuk memusnahkan hama dan penyebab penyakit
pada manusia, hewan, dan tanaman. Dalam istilah Indonesia sering juga para
pakar di biang ini menyebutnya dengan
istilah agensia pengendali hayati (Indriani, T, 2006).
Menurut
Thamrin dkk, (2008), Pestisida nabati adalah
pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan
seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai
bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang
merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau
bagian tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida.
Pestisida dari bahan nabati sebenarnya bukan hal yang baru tetapi sudah lama
digunakan, bahkan sama tuanya dengan pertanian itu sendiri. Sejak pertanian
masih dilakukan secara tradisional, petani di seluruh belahan dunia telah
terbiasa memakai bahan yang tersedia di alam untuk mengendalikan organisme
pengganggu tanaman. Pada tahun 40-an sebagian petani di Indonesia sudah
menggunakan bahan nabati sebagai pestisida, diantaranya menggunakan daun sirsak
untuk mengendalikan hama serangga
Secara
ekonomis, maka biaya pestisida nabati yang dikeluarkan petani relatif lebih
ringan dibanding pestisida sintetis, di mana harga pestisida sintetis di era
sekarang lebih mahal. Pestisida nabati/ alami diartikan sebagai suatu pestisida
yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita.
Pestisida nabati relatif lebih mudah dibuat dan didapat oleh petani dengan
kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Dari sisi lain pestisida alami/
nabati, mempunyai keistemewaan yang bersifat mudah terurai di alam, sehingga
tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan
karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati bersifat lebih aman dan nyaman,
yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu (bersifat kontak)
dan setelah hamanya terbunuh, maka residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian, tanaman akan terbebas dari residu
pestisida dan aman untuk dikonsumsi. Penggunaan pestisida nabati dimaksudkan
bukan untuk meninggalkan dan menganggap tabu penggunaan pestisida sintetis,
tetapi hanya merupakan suatu cara alternatif agar pengguna tidak hanya
tergantung kepada pestisida sintetis dan agar penggunaan pestisida sintetis
dapat diminimalkan, sehingga kerasakan lingkungan yang diakibatkannyapun
diharapkan dapat dikurangi dan waktunya kerasakan lingkungan dapat diperlambat
pula. Kegunaan Pemakaian Pestisida Nabati :
Untuk meminimalkan pemakaian pestisida sintetis sehingga dapat mengurangi
kerasakan lingkungan; Untuk mengurangi biaya usahatani yang mana bahan
pestisida nabati mudah
didapat yang tumbuh di sekitar kita dan
mudah dibuat oleh
siapapun khususnya para petani;
Tidak membahayakan kesehatan
bagi manusia dan
ternak peliharaan (Anonim,2010).
Adapun Tumbuhan yang di jadikan pestisida nasbati
adalah sebagai berikut:
- Insektisida
Adapun beberapa tumbuhan yang dapat
dijadikan insektisida hayati adalah sebagai berikut :
ü
Sirsak (Annona muricata) dan Tembakau (Nicotiana
tabacum)
Bagian : Daun, biji (sirsak)
dan Daun (tembakau).
Pembuatan
: 50 lembar daun sirsak diremas-remas dicampur 1
ons tembakau, direndam dalam1 liter air selama 24 jam. Air rendaman disaring
dan dilarutkan dalam 28 liter air kemudian disemprotkan. Akan lebih efektif dan
efisien bila dikombinasikan dengan perangkap seperti tersebut diatas.
Sasaran
: Walang sangit.
Kandungan
: Annonain
(sirsak) dan nikotin (tembakau)
ü
Mimba(Azadirachta indica)
Bagian
: Daun dan biji.
Pembuatan
: Biji dan daun ditumbuk (1 Kg) lalu direbus
dengan air 5 liter dan
didinginkan selama 1 malam kemudian
disaring.
Sasaran
: Ulat, kutu, kumbang dan penggerek.
Kandungan
: Azadirachtin, meliantriol dan salanin.
ü
Tomat (Lycopersicum
esculentum)
Bagian
: Batang dan daun.
Pembuatan : Didihkan
batang dan daun tomat lalu disaring dan didinginkan. Akan lebih baik bila
dicampur dengan sabun.
Kandungan
: Tomatin
Sasaran
: Berbagai serangga kecil.
- Fungisida
ü
Bawang Putih
Bagian : Umbi.
Pembuatan : 1 ons
bawang putih ditumbuk dicampur dengan minyak mineral lalu direndam selama 2
hari. Tambahkan o,5 liter air dan 30 gram sabun lalu disaring. Penggunaan 3 sendok teh
larutan dicampur 1 liter air.
Sasaran : Penyakit
Fusarium.
ü
Lada (Piper nigrum)
Bagian
: Biji. Sasaran : Cendawan. Dan Kandungan : Alkaloid, methylpyrrolie,
pipervatine, chavincine,piperidine dan piperine.
- Bakterisida
ü
Mimba (Azadirachta indic)
Bagian : Daun dan biji.
Sasaran : Bakteri.
Kandungan : Azadirachtin, meliantriol
dan salanin.
ü
Picung (Kluwek/Pangium
edule)
Bagian : Biji.
Pembuatan : konsentrasi 30 g/l disemrotkan pada tanaman padi.
Sasaran : Penyakit
kresek pada padi.
2.4. Teknik Aplikasi Pestisida
Keberhasilan penggunaan pestisida sangat
ditentukan oleh aplikasi yang tepat, untuk menjamin pestisida tersebut mencapai
jasad sasaran yang dimaksud, selain juga oleh faktor jenis dosis, dan saat
aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak ada pestisida yang dapat berfungsi
dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan tepat. Aplikasi pestisida yang
tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida yang semaksimal mungkin
terhadap sasaran yang ditentukan pada saat yang tepat, dengan liputan hasil
semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah ditentukan sesuai dengan
anjuran dosis (Wudianto, 1999). Wudianto (1999), adapun
cara pemakaian pestisida yang sering dilakukan oleh petani adalah sebagai
berikut :
ü Penyemprotan (Spraying) : merupakan metode yang paling banyak digunakan.
Biasanya digunakan 100-200 liter eceran insektisida per ha. Paling banyak
adalah 1000 liter per ha sedangkan yang paling kecil 1 liter per ha seperti
dalam ULV.
ü Dusting : untuk hama rayap kayu kering cryptothermes, dusting sangat
efisien bila dapat mencapai koloni karena racun dapat menyebar sendiri melalui
efek prilaku trofalaksis.
ü Penuangan atau penyiraman (pour on) : Misalnya untuk membunuh sarang semut,
rayap, dan serangga tanah di persemaian.
ü Injeksi batang : Dengan insektisida sisitemik bagi hama batang, daun, dan
penggerek.
ü Dipping : rendaman/pencelupan seperti untuk biji/benih Kayu.
ü Fumigasi: penguapan, misalnya pada hama gudang atau kayu.
Ada beberapa
hal penting yang harus diperhatikan dalam menaplikasikan sesuatu pestisida
antara lain;
1.
Dosis Pestisida.
Dosis adalah
jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan
hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu
aplikasi atau lebih. Sementara dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif
pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume
larutan. Besarnya suatu dosis pestisida tergantung dalam label pestisida.
Sebagai contoh dosis insektisida diazinon 60 EC adalah satu liter per ha untuk
sekali aplikasi, atau misal 400 liter larutan jadi diazinon 60 EC per ha untuk
satu kali aplikasi sedangkan untuk dosis bahan aktif contohnya sumibas 75 SP
dengan dosis 0,75 kg/ha (djojosumarto, 2008).
2.
Konsentrasi Pestisida
Konsentrasi
penyemprotan adalah jumlah pestisida yang disemprotkan dalam satu liter air
(atau bahan pengencer lainnya) untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman
(OPT) tertentu. Ada tiga macam konsentrasi yang perlu diperhatikan dalam hal
penggunaan pestisida
·
Konsentrasi bahan aktif
yaitu persentase bahan aktif pestisida dalam larutan yang sudah dicampur dengan
air
·
Konsentrasi formulasi
yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap liter air
·
Konsentrasi larutan
atau konsentrasi pestisida yaitu persentase kandungan pestisida dalam suatu
larutan jadi (Djojosumarto ,2008).
3. Volume
Semprot
Volume semprot adalah
banyaknya larutan jadi insektisida yang digunakan untuk menyemprot
hama/penyakit per satuan luas atau per satuan individu tanaman.
4. Bahan
Penyampur
Pestisida
sebagai bahan racun aktif (active ingredients) dalam formulasi biasanya
dinyatakan dalam berat/volume (di Amerika Serikat dan Inggris). Bahan-bahan
lain yang tidak aktif yang dicampurkan dalam pestisida yang telah di formulasi
dapat berupa:
·
Solvent adalah bahan
cair telarut mis: alkohol, minyak tanah, xyline dan air. Biasanya bahan
terlarut ini telah diberi deodorant (bahan penghilang bau tidak enak baik yang
berasal dari pelarut maupun dari bahan aktif).
·
Sinergis adalah sejenis
bahan yang dapat meningkatkan daya racun walaupun bahan itu sendiri mungkin
tidak beracun, seperti sesamin (berasal dari biji wijen), dan piperonil
butoksida.
·
Emulsifier merupakan
bahan detergen yang akan memudahkan terjadinya emulsi bila bahan minyak diencerkan
dalam air (Sastroutomo, 1992).
Beberapa alat
semprot untuk pengendalian hama / penyakit antar lain:
Ø
Knapsack Sprayer
Alat semprot
yang sangat meluas digunakan, tidak hanya untuk menyemprot hama, tetapi
juga untuk menyemprot gulma, bahkan untuk menyemprot tanaman dengan pupuk cair. Alat ini
hanya bisa untuk bahan cair dengan bahan pelarut air. Kapasitas tangki antara
15-20 liter dioperasikan secara manual dengan pompa tangan dan daya jangkaunya
sangat terbatas yaitu 2 meter.
Ø
Mist Blower
Alat semprot yang
dioperasikan dengan tenaga mesin. Bisa digunkan untuk bahan cairan, tepung dan
butiran. Daya jangkaunya ± 10 meter. Kapasitas tengki 14 liter.
Ø
Pulsfog
Alat
semprot yang dioperasikan dengan tenaga mesin digunakan hanya untuk bahan cair,
dimana keluarnya berupa kabut. Penyemprotan dilakukan pada malam hari pada saat
kabut sudah mulai turun.
Alat-alat
aplikasi pestisida hendaknya selalu di kalibrasi pada waktu yang berkala.
Kalibrasi merupakan proses untuk mendapatkan standar dan prosedur yang tepat
dalam melaksanakan penyemprotan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan
pestisida dan kualitas alat semprot, sehingga penggunaan pestisida tidak kurang
atau kelebihan. Dalam melakukan kalibrasi hal yang diperhatikan adalah
kecepatan jalan harus konstan, tekanan semprot sprayer tetap, ukuran/tipe
nozzel, ketinggian nozzel di atas permukaan tanah.
2.5. Formulasi Pestisida
Menurut Butarbutar (2009), pestisida dalam
bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan dahulu.
Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk
meningkatkan sifat-sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan,
penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Pestisida yang
dijual telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya pemakai tinggal
mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam manual.
Menurut Munaf
(1997), yang dimaksud dengan formulasi (formulated product), ialah komposisi
dan bentuk pestisida yang dipasarkan. Pestisida yang terdapat dipasaran
umumnya tidaklah merupakan bahan aktif 100%, karena selain zat pengisi atau bahan
tambahan yang tidak aktif 100%, karena selain zat pengisi atau bahan tambahn
yang tidak aktif (inert ingridient) juga da yang berisi campuran dari 2 atau
lebih pestisida. Secara umum formulasi pestisida dapat digolongkan dalam 2
(dua) golongan besar yaitu formulasi cair dan formulasi padat. Formulasi cair
biasanya terdiri dari bahan aktif, pelarut dan bahan tambahan seperti
pengemulsi, perata, perekat dll, sedangkan formulasi padat umumnya mengandung
bahan aktif, bahan pembawa (carier), pembasah dan perata.Formulasi pestisida sbagai
berikut :
1)
Formulasi cair
Formulasi cair,
terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah:
1.
Pekatan yang dapat
diemulsikan (EC/Emulsifiable Concentrate), yaitu formulasi cair yang
dibuat dengan melarutkan bahan aktif dalam pelarut tertentu dan dengan
menambahkan satu macam atau lebih surfactant atau pengemulsi. Pelarut yang
digunakan biasanya adalah xilen, nafta atau kerosene. Formulasi ini biasa
digunakan dicampur dengan air dan akan segera menyebar berupa butir-butir
sangat kecil yang tersebar dalam air. Bila campuran ini dibiarkan terlalu lama
maka akan terbentuk dua larutan yang terpisah, oleh karena itu bila telah
bercampur dengan air, pestisida ini harus segera diaplikasikan/digunakan.
2.
Pekatan yang larut
dalam air (WSC/SCW/Water Soluble Concentrate), merupakan
formulasi cair yang terdiri dari bahan aktif yang dilarutkan dalam pelarut
tertentu (organik) yang dapat bercampur dengan air itu sendiri atau air itu sendiri
sebagai pelarut.
3.
Pekatan dalam air (AC/Aqueous
Concentrate), merupakan pekatan pestisida yang dilarutkan dalam air.
Biasanya adalah bentuk garam dari herbisida asam yang mempunyai kelarutan
tinggi dalam air seperti asam 2,4 – D atau 2,4 dichlorofenoksiasetat.
2)
Formulasi Padat
Formulasi
Padat, terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah:
a
Tepung (Suspensi)
Tepung yang dapat
disuspensikan (WP/Wetable Powder atau DP /Dispersible powder),
adalah tepung kering yang halus, yang apabila dilarutkan dalam air akan
membentuk suspensi. Apabila bahan aktif berupa padatan, maka bahan aktif
tersebut ditumbuk halus dan kemudian dicampur dengan bahan pembawa inert yang
sesuai, misalnya tanah liat. Apabila bahan aktif berupa cairan, maka bahan
aktif tersebut disemprotkan pada bahan pembawa yang kering. Besar partikel
tepung biasanya tidak lebih besar dari 45 mikron.
b
Tepung (Dilarutkan)
Tepung yang
dapat dilarutkan (SP/Soluble Powder), formulasi ini hampir sama
dengan formulasi WP, tetapi bahan aktif maupun bahan pembawa dan bahan lainnya
dalam formulasi ini dapat langsung larut dalam bahan cair sebagai pengencer,
yang umumnya adalah air.
c
Butiran (G/Granular)
Butiran (G/Granular),
dalam formulasi pestisida butiran, bahan aktif dicampur dengan, dilapisi oleh
atau menempel pada bagian luar dari bahan pembawa yang inert, seperti tanah
liat, pasir, atau tongkol jagung yang ditumbuk. Formulasi butiran digunakan
langsung dengan menebarkannya tanpa dicampur dengan bahan pengencer. Kadar
bahan aktif pada formulasi ini berkisar antara 1 – 40%.
d
Debu (D/Dust)
Debu (D/Dust) pestisida dalam bentuk debu terdiri dari
bahan pembawa yang kering dan halus, yang mengandung bahan aktif 1 -10 persen,
ukuran partikelnya berkisar lebih kecil dari 75 mikron. Formulasi ini biasanya
digunakan dengan alat khusus yang disebut duster, aplikasinya tanpa dicampur
dengan bahan lain dan dimanfaatkan untuk mengatasi pertanaman yang berdaun
rimbun/lebat, karena partikel debu dapat masuk keseluruh bagian pohon.
e
Oli (oil)
Pestisida
formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate
in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau
aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan
menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.
f
Fumigansia (fumigant)
Pestisida
ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi
untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.
2.6.Residu Pestisida
Menurut
Deptan tahun 2007, residu pestisida adalah sisa pestisida, termasuk hasil
perubahannya yang terdapat pada atau dalam jaringan manusia, hewan, tumbuhan,
air, udara atau tanah (Deptan, 2011). Selain itu, residu pestisida juga
diartikan sebagai sisa pestisida yang ditinggalkan sesudah perlakuan
dalam jangka waktu yang telah menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa khemis
dan fisis mulai bekerja. Karena residu mempunyai pengertian bahan sisa yang
telah ditinggal cukup lama, maka bahan residu sudah tak efektif lagi sebagai
racun langsung, namun masih berbahaya karena dapat terakumulasi (Martono,
2009).
Di alam, pestisida diserap oleh berbagai komponen lingkungan yang kemudian
terangkut ke tempat lain oleh air, angin atau oleh jasad hidup yang berpindah
tempat. Dengan masih terdeteksinya residu di alam maka akan menimbulkan
ketidakseimbangan ekosistem yang me- nyebabkan kematian pada beberapa spesies
seperti cacing tanah, ular sawah, katak dan berbagai jenis serangga yang
sebenarnya bukan sasaran untuk dibunuh. Residu tersebut juga akan membahayakan
hewan yang mengkonsumsi hijauan yang tumbuh di daerah tersebut yang menjadi
sumber pakan . Hal lainnya adalah terakumulasinya residu tersebut pada
hewanhewan air (ikan) seperti yang dilaporkan di daerah Lembang dan Pangalengan
dan residu turunan DDT pada udang, kepiting dan ikan di daerah Cimanuk (Faedah et al.,1993) .
Terjadinya pencemaran pestisida terhadap lingkungan termasuk danau
disebabkan oleh beberapa hal seperti cara aplikasi, wujud pestisida saat
diaplikasikan, sifat tanah dan tanaman, volatilitas dan solubilitas pestisida,
serta iklim (Ahlrichs, et al., 1974; Waldron, 1992; Kerle, et al.,
1996).
BAB. III
METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum Pestisida dan Teknik Aplikasi dilaksanakan di Laboratorium
Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara pada bulan April s/d Mei 2014.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam
praktikum Pestisida dan Teknik Aplikasi
adalah : Cawan Petri, Encase, Bunsen, Tes tub, Rak tes tub, Gelas air mineral,
Gelas piala, Hot plate, stoptwatch
,Blender, pisau, Alat tulis, Buku tulis,
Kamera.
Bahan yang digunakan dalam praktikum
Pestisida dan Teknik Aplikasi adalah : Jamur Phatogen ( Fusarium moniliform ),Insektisida : (Decis (deltametrin 29
g/L),Soffel (Diethyltoluamido) Baygon
(Simetrin, Imipotrin, praletrin), Ekstrak daun pepaya (carica papaya), Hama kutu , Ikan buntat, Botol pestisida
(Insektisida,Herbisida, Bakterisida, Fungisida),aluminium oil.
3.3. Metode Pelaksanaan
3.3.1.Formulasi Pestisida
Dalam
pelaksanaan praktikum formulasi pestisida adalah : Mencatat nama dagang, bahan
aktif,bentuk formulasi dan OPT sasaran Pestisida.
3.3.2. Uji efektivitas
Insektisida Terhadap Jamur Phatogen secara In vitro
Adapun
Tahapan pelaksanaan Uji efektivitas Insektisida Terhadap Jamur patogen secara
In vitro adalah sebagai berikut :
Ø
Menyiapkan PDA
(Potato dekstrosa agar) dengan
campuran insektisida dan PDA (Potato
dekstrosa agar) tanpa insektisida sebagai kontrol.
Ø
Menyiapkan
biakan murni jamur pathogen (fusarium
moniliforme)
Ø
Panaskan media
PDA (Potato dekstrosa agar) sampai
mencair dan biarkan dingin sampai temperatur 50 0 C.
Ø
Tuangkan PDA
kedalam petridish dan biarkan sampai dingin dan padat.
Ø
Sterilkan Jarum
ose, ambil jamur dari biakan murni dan pindahkan secepatnya pada bagian tengah
petridish yang berisi PDA (Potato dekstrosa agar) dengan campuran
insektisida dan PDA (Potato dekstrosa
agar) tanpa insektisida sebagai kontrol.
Ø
Setelah di
inkubasi selama 2 × 24 jam amati pertumbuhannya dengan mengukur diameter
pertumbuhan jamur dan gambar atas dan bawah petridish .
3.3.3. Uji Residu Pestisida
Adapun tahapan pelaksanaan Uji residu
pestisida adalah sebagai berikut :
Ø Menyiapkan
bahan-bahan Insektisida ( bahan aktif deltametrin
) dan pestisida fumigan. (Diethyltoluamido)
Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin),
Ø Siapkan Ikan buntat
sebanyak ± 12 ekor,masing-masing 3 ekor dengan 4 perlakuan yaitu : soffel ,
baygon,soffel dan baygon dan decis.
Ø Masukkan ikan secara
bersamaan kedalam perlakuan yang disediakan.
Ø Amati berapa lama
ikan dapat bertahan sampai ikan benar-benar mati ,dengan menggunakan stoptwatch
Ø Keluarkan ikan
tersebut,kemudian gambar (fhoto)
3.3.4. Uji Efektivitas Pestisida Nabati
Tahapan pelaksanaan Uji Efektivitas Pestisida Nabati adalah sebagai berikut
:
Ø Menyiapkan alat dan
bahan pembuatan pestisida hayati yaitu : Pisau, blender,tes tub ,Daun pepaya (Carica papaya ),deterjen,serangga hama.
Ø Pembuata pestisida
hayati sebagai berikut : Potong-potong daun pepaya secukupnya,rendam daun
pepaya.Setelah mendapatkan ekstrak daun pepaya kemudian tambahkan deterjen
secukupnya,gunanya sebagai bahan perekat.
Ø Setelah mendapatkan
ekstrak daun pepaya kemudian ambil serangga hama untuk pengujian secara in
vitro.
Ø Masukkan serangga
hama beserta tanaman yang diserang kedalam tes tub.
Ø Masukkan ekstrak
pestisida nabati ke dalam tes tub tersebut dengan cara di tuang dan di
percikkan.kemudian tutup dengan aluminium oil.
Ø Amati berapa lama
serangga hama tersebut bertahan di dalam tes tub.
BAB. IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil
4.1.1.Formulasi Pestisida
Hasil dari praktikum formulasi
pestisida adalah sebagai berikut :
|
No
|
Nama Dagang
|
Bahan Akktif
|
Formulasi
|
OPT Sasaran
|
|
1
|
Curacron
|
Profenofos 500 g/l
|
500 Ec
|
Insektisida
|
|
2
|
Decis 25 Ec
|
Deltametrin 25g/L
|
25 Ec
|
Insektisida
|
|
3
|
Gromoxone
276 SL
|
Parakuat diklorida 276g/L
|
276 SL
|
Herbisida
|
|
4
|
Roundup 486 Sl
|
Isopropilamina 486
g/L
|
486 SL
|
Herbisida
|
|
5
|
Dhithaen M 45
|
Mankozeb
|
45%
|
Fungisida
|
|
6
|
Ridomil 35 SD
|
Metalaksil 35
20 %.
|
35 SD
|
Fungisida
|
|
7
|
Antracol 70 WP
|
Propineb 70%
|
70 WP
|
Fungisida
|
4.1.2. Uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen secara In vitro
Hasil
praktikum Uji efektivitas insektisida terhadap jamur (Fusarium moniliforme) pathogen
secara In vitro adalah sebagai berikut :
|
No
|
Pengamatan
|
Diameter jamur
cm
|
|
|
1
|
Pengamatan I
|
Insektisida
![]() |
2,8 Cm
|
|
Tanpa
Insektisida (Kontrol)
![]() |
2.7 cm
|
||
|
2
|
Pengamatan 2
|
Insektisida
![]() |
2.3 cm
|
|
Tanpa
insektisida (Kontrol)
![]() |
2.3 cm
|
||
|
3
|
Pengamatan 3
|
Insektisida
![]() |
3 cm
|
|
Tanpa
Insektisida (Kontrol)
![]() |
2.8 cm
|
||
|
|
Total
|
Insektisida
|
8.1 cm
|
|
Tanpa Insektisida (Kontrol)
|
7.8 cm
|
||
4.1.3.Uji Residu Pestisida
Hasil praktikum Residu pestisida adalah
sebagai berikut :
|
No
|
Perlakuan
|
Waktu Pengamatan
|
Keterangan
|
|
1
2
|
Insektisida
Decis (Deltametrin)
![]()
Soffel (Diethyltoluamido)
![]() |
6.36 Menit
11.34 Detik
|
Mati
Mati
|
|
3
|
Soffel (Diethyltoluamido) dan Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin)
![]() |
18.19 Detik
|
Mati
|
|
4
|
Baygon (Simetrin,
Imipotrin, praletrin)
![]() |
02.33 Jam
|
Mati
|
4.1.4. Uji Efektivitas Pestisida Nabati
Hasil Praktikum Uji residu pestisida
adalah sebagai berikut :
|
No
|
Perlakuan
|
Waktu Pengamatan
|
Keterangan
|
|
|
1
|
Dipercikkan dan
disiram
![]() |
Dipercikkan
|
Disiram
|
Mati
|
|
02.50 jam
|
01.20 jam
|
|||
4.2.Pembahasan
4.2.1. Formulasi Pestisida
Hasil praktek formulasi pestisida terdapat
7 jenis pestisida (Insektisida,Herbisida, Fungisida) dengan nama dagang
Curacron,Decis 25 Ec, Gromoxon 276 SL, Roundup 486 SL, Dhithaen M 45, Ridomil
35 SD, Antracol 70 WP.
Formulasi
pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan
sifat – sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan
(handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Formulasi pestisida yang
dipasarkan terdiri atas bahan pokok yang disebut bahan aktif (active
ingredient) yang merupakan bahan utama pembunuh organisme pengganggu dan bahan
ramuan (inert ingredient). Jika dilihat
dari struktur kimianya, bahan aktif ini bisa digolongkan menjadi kelompok
organic sintetik, orgnik alamiah dan inorganic. Bahan aktif ini jenisnya sangat
banyak sekali. Tahun 1986 badan proteksi lingkungan Amerika Serikat mencatat
ada 2600 bahan aktif yang sudah dipasarkan. Dan diseluruh dunia ada 35000
formulasi atau merk dagang (Solekhah, 2012).
Bentuk
pestisida yang merupakan formulasi ini ada berbagai macam. Formulasi ini perlu
dipertimbangkan oleh calon konsumen sebelum membeli untuk disesuaikan dengan
kesediaan alat yang ada, kemudahan aplikasi, serta efektifitasnya (Solekhah,
2012).
Pada
pestisida GRAMOXONE 276 SL dengan
formulasi cair dan jenis pestisida soluble liquid (SL) ketika
ditambahkan pelarut air maka bentuk adukan jadinya adalah larutan. Formulasi
pestisida tercampur sempurna pada pelarut air, tidak meninggalkan endapan
maupun gumpalan. Warna larutan adukan jadi adalah hijau.
Pestisida
memiliki nama dagang Ridomil 35 SD. Pestisida ini termasuk kedalam golongan
fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Metalaksil 35 20 %. Jenis
formulasinya adalah Solution (S), dengan OPT sasaran beberapa jenis
jamur/cendawan terutama jamur/cendawan yang menyebabkan penyakit bulai. Untuk
cara cara aplikasi pestisida jenis ini, ridomil 35 SD diaplikasikan dengan cara
disemprotkan pada tanaman.
Pestisida memiliki nama dagang Antracol 70 WP.
Pestisida ini termasuk kedalam golongan Fungisida dengan nama umum bahan aktif
yaitu Propineb 70 %. Jenis formulasinya adalah Wettable Powder (WP), dengan OPT
sasaran beberapa jenis jamur/cendawan terutama Alternaria pada penyakit bercak
ungu. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, Antracol 70 WP
diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada areal petanaman yang terserang.
4.2.2. Uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen secara
In vitro
Hasil uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen Fusarium moniliform secara In vitro,
perbandingan antara pemakaian insektisida (
Deltametrin) dan tanpa insektisida (kontrol). pemakaian insektisida tidak
menghambat pertumbuhan jamur Fusarium
moniliforme bahkan pertumbuhan jamur dengan pemakaian insektisida lebih
cepat di bandingkan dengan perlakuan kontrol.
Menurut Agrios (1997) kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman
dan kurang mendukung bagi perkembangan patogen akan memperlambat masa inkubasi,
sehingga patogen membutuhkan waktu lebih lama untuk menginfeksi tanaman. Jumlah
spora merupakan factor yang mempengaruhi terhadap infeksi. Makin tinggi
kepadatan hifa makin banyak spora yang dihasilkan. Banyaknya hifa yang tumbuh
dan bersinggungan dengan permukaan akar memacu keberhasilan infeksi terhadap
pathogen (Hepper dalam Winarsih dan Baon, 1999). Jumlah spora jamur ditentukan
oleh lamanya masa inkubasi. Laju infeksi meningkat dengan makin lamanya masa
inkubasi dan mkin banyaknya spora.
4.1.3.Uji Residu Pestisida
Hasil Uji residu pestisida terhadap ikan buntan
dengan 4 perlakuan yaitu : Perlakuan dengan Insektisida (bahan aktif Deltametrin),perlakuan soffel(Diethyltoluamido) Baygon (Simetrin,
Imipotrin, praletrin),dan perlakuan Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin)
digabung dengan soffel (Diethyltoluamido),Diantara
4 perlakuan tersebut ikan yang paling cpat mati pada perlakuan soffel dengan
waktu 11.34 detik dan yang paling lama ikan dapat bertahan pada perlakuan
baygon dengan waktu 02.33 jam.
Di alam, pestisida diserap oleh berbagai komponen lingkungan yang kemudian
terangkut ke tempat lain oleh air, angin atau oleh jasad hidup yang berpindah
tempat. Dengan masih terdeteksinya residu di alam maka akan menimbulkan
ketidakseimbangan ekosistem yang menyebabkan kematian pada beberapa spesies
seperti cacing tanah, ular sawah, katak dan berbagai jenis serangga yang
sebenarnya bukan sasaran untuk dibunuh. Residu tersebut juga akan membahayakan
hewan yang mengkonsumsi hijauan yang tumbuh di daerah tersebut yang menjadi
sumber pakan . Hal lainnya adalah terakumulasinya residu tersebut pada hewan
hewan air (ikan) seperti yang dilaporkan di daerah Lembang dan Pangalengan dan
residu turunan DDT pada udang, kepiting dan ikan di daerah Cimanuk (Faedah, et
al, 1993) .
Umur dan jenis ikan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi variasi
konsentrasi pada ikan. Makin tua umur ikan makin besar ukurannya, makin banyak
pula lemak pada tubuh ikan, menyebabkan makin banyak residu pestisida yang
terakumulasi. Persentase lemak pada tiap jenis ikan juga berbeda-beda,
menyebabkan residu pestisida dari suatu jenis ikan akan berlainan dengan jenis
ikan lainnya. Perubahan musim juga dilaporkan memiliki pengaruh dalam variasi
konsentrasi pestisida pada ikan. Di Danau Paranoa Brasil, dilaporkan residu DDT
pada sampel yang diambil pada musim kemarau lebih besar dibanding sampel yang
diambil pada musim hujan (Caldas, 1999).
Data residu cemaran pestisida golongan karbamat yang didapatkan ini memang
masih jauh di bawah nilai amabang batas yang diizinkan, namun dengan penggunaan
pestisida yang berkelanjutan tidak menutup kemungkinan terjadi bioakumulasi
yang kemudian disertai dengan biomagnifikasi. Kalau hal ini terjadi maka sudah
barang tentu akan dapat memberikan dampak negatif. Namun demikian, mengingat di
lingkungan juga terjadi proses degradasi pestisida yang dapat diakibatkan oleh
sinar matahari maupun bakteri sehingga hal ini dapat mengurangi residu cemaran.
Demikian juga waktu paruh dari pestisida yang relatif singkat juga
mengakibatkan residu pestisida golongan fosfat-organik ini dapat berkurang
(Anonim, 1996)
4.2.4.Uji Efektivitas
Pestisida Nabati
Hasil uji efektivitas pestisida nabati dengan perlakuan
dipercikkan (di semprot ) dan perlakuan di siramkan (di celupkan ) hama kutu
daun ( Aphis sp) yang paling cepat
mati yaitu pada perlakuan di siramkan (di celupkan ) dengan waktu 01.20 Menit dan untuk perlakuan di percikkan
(di semprot) 02.50 Menit. Hal ini diduga tingginya
konsentrasi ekstrak daun pepaya yang digunakan, sehingga daya racunnya akan
semakin tinggi, maka akan semakin cepat mematikan hama kutu daun Aphis
gossypii. Hal ini sesuai dengan pendapat Dewi (2010) menyatakan bahwa
konsentrasi ekstrak yang lebih tinggi maka pengaruh yang ditimbulkan semakin
tinggi, disamping itu daya kerja racun suatu senyawa sangat ditentukan oleh
besarnya konsentrasi.
Mekanisme masuknya senyawa papain yang dihasilkan dari ekstrak daun pepaya
ke tubuh kutu daun Aphis gossypii secara kontak. Namun insektisida
senyawa papain juga bekerja sebagai racun kontak, dengan proses masuknya cairan
ekstrak daun pepaya ke dalam tubuh serangga melalui lubang-lubang alami.
ekstrak daun pepaya apabila mengenai kutu daun Aphis gossypii, maka kutu
daun Aphis gossypii akan mati secara berlahan-lahan dan akhirnya mati.
Menurut Untung (2006) racun kontak dapat terserap melalui kulit pada saat
pemberian insektisida atau dapat pula terkena sisa insektisida (residu)
beberapa waktu setelah penyemprotan.
Selanjutnya insektisida masuk ke dalam tubuh kutu daun Aphis gossypii,
maka insektisida bekerja sebagai racun perut. Mekanisme kerja racun perut di
dalam tubuh kutu daun Aphis gossypii diserap oleh dinding ventrikulus
pada pencernaan kutu daun Aphis gossypii kemudian ditrans lokasikan
menuju ke pusat saraf kutu daun Aphis gossypii sehingga dapat menganggu
aktivitas metabolismeserangga dan menyebabkan penurunan aktivitas makan
serangga dan akhirnya serangga mati(Trizelia, 2001)
BAB. V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
1.
Adapun hasil praktek formulasi pestisida terdapat 7
jenis pestisida (Insektisida,Herbisida, Fungisida) dengan nama dagang
Curacron,Decis 25 Ec, Gromoxon 276 SL, Roundup 486 SL, Dhithaen M 45, Ridomil
35 SD, Antracol 70 WP.
2.
Hasil uji Efektivitas Insektisida Terhadap Jamur Phatogen Fusarium moniliform secara In vitro,
perbandingan antara pemakaian insektisida (
Deltametrin) dan tanpa insektisida (kontrol). pemakaian insektisida tidak
menghambat pertumbuhan jamur Fusarium
moniliforme bahkan pertumbuhan jamur dengan pemakaian insektisida lebih
cepat di bandingkan dengan perlakuan kontrol.
3.
Hasil Uji residu pestisida
terhadap ikan buntan dengan 4 perlakuan yaitu : Perlakuan dengan Insektisida (bahan aktif Deltametrin),perlakuan
soffel(Diethyltoluamido)
Baygon (Simetrin, Imipotrin, praletrin),dan
perlakuan Baygon (Simetrin, Imipotrin,
praletrin) digabung dengan soffel (Diethyltoluamido),Diantara 4 perlakuan tersebut ikan yang paling cpat mati
pada perlakuan soffel dengan waktu 11.34 detik dan yang paling lama ikan dapat
bertahan pada perlakuan baygon dengan waktu 02.33 jam.
4.
Hasil uji efektivitas
pestisida nabati dengan perlakuan dipercikkan (di semprot ) dan perlakuan di
siramkan (di celupkan ) hama kutu daun (
Aphis sp) yang paling cepat mati yaitu pada perlakuan di siramkan (di
celupkan ) dengan waktu 01.20 Menit dan
untuk perlakuan di percikkan (di semprot) 02.50 Menit.
5.2.Saran
Penulis
menyarankan untuk praktikum selanjutnya dalam praktek Pestisida dan Teknik
Aplikasi, turun kelapangan mengaplikasikan pestisida . dan melihat bagaimana
dampak negatif penggunaan pestisida sintetik.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios.
1997. Plant pathology 4 ed.Academic Press, NewYork.
Anonim.
1996. Pesticide Wise. Government of British Columbia: Ministry of
Agriculture and Lands
Anonim.
2002. Water Sampling Procedure. Queensland, Australia: The State of
Queensland (Department of Natural Resources and Mines)
Caldas
E.D., Coelho R., Souza L.C.K.R., Ciba S.C. 1999. Organochlorine
Pesticide in Water, Sediment, and Fish of Paranoa Lake
of Brazilia Brazil Bulletin of
Environmental Contamination and Toxicology, 62(2), 199-206.
Dewi,
R. S. 2010. Keefektifan Ekstrak Tiga
Jenis Tumbuhan Terhadap
Paracoccus marginatus dan Tetranychus sp. pada Tanaman JarakPagar (atropha
curcas ) Tesis Program Pascasarjana. IPB. Bogor.
Maryam,
A. & Nurdin. 1994. Pengaruh Tingkat
Konsentrasi Perasaan Biji
Mahoni Palpitaunionalis hubn.
Proseding Seminar Nasional. Bogor.
Untung,
K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta
Winarsih,
S. dan J.B. Baon, 1999. Pengaruh Masa Inkubasi dan Jumlah Spora \
Terhadap InfeksiMikoriza dan Pertumbuhan Planet
Kopi. Pelita Perkebunan, Journal Penelitian Kopi dan Kakao Vol 15 No.1.
Oginawati K.
2005. Analisis Risiko
Penggunaan Insektisida
Organofosfat
Terhadap Kesehatan Petani Penyemprot.
Universitas Sumatera Utara.
http://www.usu.ac.id. 9 April 2013.
Pawitra A. S. 2012.
Pemakaian Pestisida Kimia
Terhadap Kadar Enzim
Cholinesterase dan Residu Pestisida Dalam Tanah. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Media Husada I Volume 01/Nomor 01/Agustus 2012.
Siswanto, 1991 dan
Depkes 2000. Kejadian Anemia Dan
Keracunan Pestisida
Pekerja Penyemprot Gulma Di Kebun
Kelapa Sawit PT
Agro Indomas
Kab. Seruyan Kalimantan
Tengah. Semarang,
Universitas Diponegoro.
http://eprints.undip.ac.id. 9 April 2013.
Sudarmo, 1991.
Pengaruh Penggunaan Pestisida Terhadap Kondisi Tanah dan
Mikroorganisme Tanah. www. usu. Repository.ac.id. 2013.
Wudianto, 2010. Pestisida dan Teknik Aplikasi. Kanisius. Yogyakarta.
LAMPIRAN
Dokumentasi Fhoto

Gambar Uji efektivitas insektisida jamur
pathogen dan kontrol

Gambar
alat dan bahan praktek Uji residu pestisida

Gambar
:Proses pembuatan Pestisida Nabati













Tidak ada komentar:
Posting Komentar